Resume Ceramah Ilmiah Syaikh Dr. Usamah Sayyid AzharS Dalam Sesi ke-4 Seminar "Hadis dan Ahli Hadis di al-Azhar”

Oleh: Ust. al-Fadhil Zamzami Saleh al-Azhari pada 18 Juni 2011 jam 7:27

Ini merupakan ringkasan dari ceramah ilmiah yang disampaikan oleh Syekh Usamah al-Sayyid al-Azhari dalam seminar berjudul “Hadis dan Ahli Hadis di al-Azhar” (الحديث والمحدثون في الأزهر الشريف) yang diadakan di Auditorium Imam Muhammad ‘Abduh, al-Azhar pada 25 Mei 2011 lalu. Oleh karena isi kandungan ceramah beliau begitu menarik, maka saya coba buat resumenya  dalam bentuk tulisan ini.


Di sesi ke 4, Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari berbicara mengenai  topik “sumbangan dan khidmat ulama al-Azhar terhadap hadist”.Di awal topik,beliau menceritakan beberapa dakwaan dan cerita-cerita yg mengatakan bahwa Al-Azhar bukanlah madrasah Hadist dan bahwa Azhar tidak memiliki keilmuan dalam bidang hadits serta bahwa Azhar tidak memiliki kebiasaan ilmiah dalam bidang Hadits yang mampu menelorkan produk-produk ilmiah dalam bidang hadits serta para muhaddits.

Menurut dakwaan tersebut, dikatakan bahwa setelah al-Hafiz Murtadha al-Zabidi (w. 1205H) tiada lagi ulama yang memberi tumpuan terhadap hadis di al-Azhar, Mesir. Menurut Syekh Usamah,dakwaan tersebut muncul akibat kurang nya pengetahuan beberapa pendakwa tentang Sejarah Al-Azhar dan Para tokoh-tokohnya serta tidak adanya pengetahuan tentang produk-produk ilmiah berharga yang dihasilkan oleh Al-Azhar.Bisa jadi dakwaan itu muncul karena Al-Azhar sendiri bukanlah madrasah yang konsentrasi pada satu keilmuan saja.Padahal kalau kita lihat lewat sejarah Azhar serta usaha para tokohnya dalam bidang hadits,akan kita temui begitu banyak sumbangan Azhar dalam bidang hadits,baik dalam bentuk produk-produk keilmuan yang bermacam ragam seputar Hadits dan Ilmu-ilmunya maupun menelorkan para Muhaddits yang di hormati pada Zamannya.

Syekh Usamah lalu menyebutkan sebagian diantara  bukti-bukti Khidmat Ulama-ulama Azhar dalam bidang Hadits.Bukti-bukti tersebut beliau kelompok kan ke dalam 8 poin.8 poin ini setidaknya cukup untuk membuktikan bahwa tiada satupun institusi pendidikan islam yang memberikan khidmat kepada Hadits seperti yang telah dilakukan oleh Al-Azhar.8 poin tersebut adalah :  

1.Men-Syarah (Memberi komentar) terhadap Kitab-Kitab Hadits Kubro dan Mu’tamad

 Antara tokoh-tokoh al-Azhar dalam bidang ini:

- Syeikhul Islam ‘Ali al-Sa‘idi al-‘Adawi, beliau mengajar Sahih al-Bukhari selama 10 tahun. Beliau mensyarahkannya secara detail dari segi sanad dan matan. Antara muridnya ialah Syeikh al-Amir al-Maliki al-Kabir.

- Syeikh Hasan al-‘Idwi al-Hamzawi, mengarang kitab Syarah Sahih al-Bukhari setebal 10 jilid. Kitab beliau ini pernah dicetak dengan huruf batu.

- Dr. Musa Syahin Lasyin mengarang kitab Fath al-Mun’im fi Syarh Sahih Muslim dalam tempo 20 tahun.

- Syekh. Muhammad Muhammad Abu Syahbah mengarang Tawfiq al-Bari di Syarah Sahih al-Bukhari yang dikarang dalam 15 jilid. Tapi kitab ini tidak dicetak hingga kini.

- Prof. Dr. Ahmad ‘Umar Hasyim menyusun kitab Faidh al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari. Ia telah diterbitkan hingga kini sebanyak 10 jilid dan masih ada 2 jilid lagi yang belum dicetak.

- Dr. Muhammad Zakiyuddin Abu al-Qasim menyusun kitab Jami al-Bayan fi Syarh Ma Ittafaq ’Alayhi al-Syaykhan, telah dicetak dalam 15 jilid.

- Syeikh ‘Abdu Rabbuh Sulaiman menyusun kitab Syarah Jami al-Usul oleh Ibn al-Athir. Kitab ini diberi Kata Pengantar oleh Para Ulama al-Azhar, terutamanya Musnid al-‘Asr Syeikh Ahmad Rafi‘ al-Tahtawi.

- Syeikh Ahmad ‘Abd al-Rahman al-Banna al-Sa‘ati menghasilkan Bulugh al-Amani bi Tartib Musnad Ahmad bin Hanbal al-Syaybani, dan kemudian menyusun syarahnya al-Fath al-Rabbani. [Beliau turut menyusun dan mensyarah hadis-hadis Musnad Abi Dawud al-Tayalisi dan Musnad al-Syafi‘i].

Dan lain-lain.

Bisa dikatakan amat sulit untuk menghitung karya-karya Ulama Al-Azhar dalam bagian ini secara detail mengingat jumlahnya yang begitu banyak.Bahkan menurut Syekh Usamah nyaris tiada satupun institusi  keilmuan islam yang menghasilkan produk-produk Ilmiah bidang Hadits, terutama dalam masalah Syarah dari Kitab-Kitab yang Kubro dan Mu’tamad ini yang melebihi Al-Azhar.

 2.Mematangkan ilmu seputar Manahijul Muhadditsin (Metodologi Ahli Hadits)
Ilmu Manahijil Hadits adalah ilmu yang nyaris mati dalam beberapa kurun lampau.Namun Dihidupkan lagi oleh ulama-ulama al-Azhar. Istilah Manahij al-muhadditsin kira-kira sama dengan istilah Syurut al-A’immah (syarat-syarat para imam) pada masa dahulu. Antara ulama yang mengarang mengenai Syurut al-A’immah ialah Ibn Mandah, al-Hazimi dan al-Maqdisi. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah dalam tahkiknya ke atas kitab Syurut al-A’immah oleh al-Hazimi dan al-Maqdisi.

Antara ulama al-Azhar yang menghasilkan karya mengenai manahij al-muhadditsin ini ialah:

- Syeikh Muhammad Muhammad Abu Zahw mengarang kitab al-haditswa al-Muhadditsun.

- Dr. Ahmad Muharram al-Syeikh Naji menulis kitab berjudul al-Daw’ al-Lami al-Mubin ‘an Manahij al-muhadditsin setebal 2 jilid mengenai metodologi ahli hadis sehingga kurun ke-empat hijrah.

Manahij al-muhadditsin merupakan antara subjek penting yang diajarkan di al-Azhar kini dan amat sangat banyak karya yang telah dikarang mengenainya.

3.Mematangkan ilmu-ilmu istilah hadits
Antara tokoh-tokoh al-Azhar dalam bidang ini:

- Syeikh Muhammmad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani menyusun kitab Manhaj al-haditsfi Ulum al-Hadith.

- Syeikh Ahmad ‘Ali Ahmadin menyusun kitab Daw’ al-Qamar ‘ala Nukhbah al-Fikar.

- Syeikh ‘Abd al-Wahhab ‘Abd al-Latif menyusun kitab al-Mukhtasar fi ‘Ilm Rijal al-Atsar dan al-Mutasar fi ‘Ulum al-Atsar.

- Syeikh Mustafa Amin al-Tazi mengarang kitab Maqasid al-haditsfi al-Qadim wa al-Hadith.

- Syeikh Muhammad Muhammad al-Samahi menyusun kitab Manhaj al-haditsfi Ulum al-haditssetebal 4 juz. Muridnya, Dr. Nuruddin ‘Itr memuji kitab ini yang mengandungi bahasan yang halus dan detail. Namun beliau sangat sedih karena kitab ini tidak disebarkan secara luas. Kitab ini lebih padat berbanding kitab Taujih al-Nazar oleh Syeikh Tahir al-Jaza’iri.

Syeikh ‘Ali Jum‘ah pernah bertanya kepada Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah: Apakah kitab yang perlu dibaca oleh penuntut ilmu hadis? Jawab beliau: Nuzhah al-Nazar, al-Nukat oleh Ibn Hajar, Tadrib al-Rawi, Fath al-Mughits dan Taujih al-Nazar oleh Syeikh Tahir al-Jaza’iri karena ia mengandungi falsafah ilmu hadis.

Syeikhul Muhaddithin di zaman ini, Syeikh Dr. Ahmad Ma‘bid ‘Abd al-Karim mempelajari Fath al-Mughits secara lengkap dari Syeikh Muhammad al-Samahi. Menurutnya, Syeikh al-Samahi bisa jadi lebih besar ilmu dan lebih luas bahasannya dari  al-Hafiz al-Sakhawi.

- Syeikh Muhammad Muhammad Abu Syahbah mengarang kitab al-Wasit fi ‘Ulum Mustalah al-Hadith. Kitab ini wajar digandengkan bersama kitab Tadrib al-Rawi dan Fath al-Mughits.

- Syeikh Muhammad Mahmud Ahmad Bakkar mengarang kitab Bulugh al-Amal min Mustalah al-haditswa ‘Ulum al-Rijal.Terdiri dari 2 jilid.

Dan masih banyak lagi.

Jika dihitung saja sejak dari tahun 1930-an hingga kini, niscaya akan ditemukan lebih dari 500 produk ilmiah seputar bidang ini.

 4.Menghasilkan produk-produk ilmiah seputar ilmu Takhrijul Hadits
  Antara tokoh-tokoh al-Azhar dalam bidang ini:

- Syeikh ‘Abd al-Mawjud ‘Abd al-Latif menyusun kitab takhrij al-haditsberjudul Kasyf al-Litham, setebal 2 jilid.

- Dr. ‘Abd al-Muhdi ‘Abd al-Qadir menulis kitab Turuq Takhrij al-hadits.Beliau mengatakan bahwa kitab tersebut adalah kitab pertama yang dikarang dalam spesifikasi Turuq Takhrij Hadits . Meskipun sebelumnya pernah al-Hafiz Ahmad Shiddiq al-Ghumari mengarang kitab berjudul Husul al-Tafrij bi Usul al-Takhrij, namun sayang kitab ini tidak diterbitkan begitu lama (baru diterbitkan beberapa tahun yang lalu). Maka, boleh dikatakan beliau Dr. ‘Abd al-Muhdi adalah orang pertama dari kalangan ulama al-Azhar yang menyusunnya secara lengkap.

- Syeikh DR. Ridha Zakariyya mengarang kitab takhrij al-hadits yang sangat dipuji oleh Syeikh Ahmad Ma‘bid ‘Abd al-Karim.

Takhrij al-hadits merupakan antara subjek penting yang diajarkan di al-Azhar kini dan amat banyak karya yang telah dikarang mengenainya. 

5.Mengadakan Majelis pembacaan dan penyampaian hadis, serta mengekalkan tradisi sanad dan ijazah. 
Majelis-Majelis pengajian hadis di al-Azhar pada masa lalu hingga saat ini merupakan majelis yang sangat banyak pelaksanaannya serta banyak dihadiri oleh para penuntut ilmu. Antara tokoh-tokohnya:

- Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Dijwi mengadakan majelis pembacaan Sahih al-Bukhari yang dihadiri oleh banyak penuntut ilmu, sebagaimana yang diceritakan  oleh Syeikh Abu al-Hasan Zaid al-Faruqi dalam kitab Maqamat Khayr, dalam bahasa Urdu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa majelis ini dihadiri oleh sekurang-kurangnya 500 orang sehingga lebih dari 1000 orang pendengar.

- Syeikh Hasunah al-Nawawi, yang menjabat Syaikh al-Azhar dan Mufti Mesir pada waktu yang bersamaan , sebagaimana halnya Syeikh Muhammad al-Mahdi al-‘Abbasi (karena kebanyakan Syekh Al-Azhar dan Mufti mesir dijabat oleh orang yang berbeda). Beliau diperintahkan oleh Sultan ‘Abd al-Hamid al-‘Utsmani untuk membuat perkumpulan ulama yang ditugaskan untuk meneliti dan menerbitkan kitab Sahih al-Bukhari. Beliau lalu mengumpulkan 31 orang Ulama Al-Azhar.Lalu Perkumpulan ini mengumpulkan begitu banyak manuskrip sahih bukhori lalu melakukan pembahasan yang mendalam serta analisa terhadap manuskrip tersebut hingga perkumpulan tersebut berhasil menghasilkan sebuah cetakan yang mu’tamad tahun 1812 M yang kemudian dikenal dengan Cetakan Sultaniyyah, dan dianggap Naskah Sahih al-Bukhari yang paling sahih dan mu’tamad karena Cetakan ini berpegang kepada Naskah Syarafuddin al-Yunini. Meskipun Syeikh ‘Abd al-Hayy al-Kattani mengatakan Naskah Ibn Sa‘adah lebih utama berbanding Naskah al-Yunini.

- Syeikhul Islam Salim al-Bisyri telah mengajar kitab hadis selama 30 tahun. Beliau sangat memberikan perhatian terhadap Sahih al-Bukhari. Muridnya, Syeikh Muhammad al-Makkawi juga sangat sungguh-sungguh dalam memberikan perhatian kepada Sahih al-Bukhari hingga ia mampu membetulkan Cetakan Sultaniyyah dalam bentuk jadwal yang detail. Jadwal ini kemudian diterbitkan oleh Syeikh ‘Ali Jum‘ah sebagai lampiran kitabnya tentang Sahih al-Bukhari.

- Syeikh Ahmad Mahjub al-Rifa‘i al-Fayyumi mempelajari Sahih al-Bukhari dari Syeikh Mustafa al-Muballat yang mempelajarinya dari Syeikh Muhammad ‘Ali al-Syanawani (Wafat 1246 H), penyusun al-Durar al-Saniyyah fi Ma Ala min al-Asanid al-Syanawaniyyah. Muridnya, Syeikh Taha bin Yusuf al-Sya‘bini mempelajari Sahih al-Bukhari dari beliau. Syeikh Ahmad Mahjub juga ikut mempelajari Sahih Muslim dari Syeikh Muhammad ‘Ilisy al-Maliki (Pen-syarah Mukhtasor Kholil ) . Kemudian beliau mengajarkannya dan antara muridnya ialah Syeikh Muhammad al-‘Adawi al-Maliki. Beliau juga bersungguh-sungguh dengan Sunan al-Tirmizi dan menghabiskan waktunya dengan meneliti dan membanding Naskah-Naskah al-Tirmizi. Naskah Sunan al-Tirmizi miliknya merupakan Naskah yang amat sahih dan detail, hingga Syeikh Ahmad Syakir menjadikannya sebagai sandaran dalam tahkiknya terhadap Sunan al-Tirmizi.

- Syeikh Abu Hurairah Dawud al-Qal‘i mempelajari dan kemudian mengajar kitab Sahih al-Bukhari. Antara muridnya, Syeikh Al-Azhar Hasan al-Quwaisni yang turut mengajar kitab Sahih al-Bukhari. Antara murid al-Quwaisni ialah Syeikh Mustafa al-‘Arusi yang turut mengadakan majelis pengajian Sahih al-Bukhari dan pembacaan kitab Awa’il  Syeikh Abdullah bin Salim al-Basri. Antara murid al-‘Arusi pula ialah Syeikh ‘Abd al-Ghani al-‘Inani. Dikatakan, majelis beliau dihadiri oleh 200 atau lebih ulama al-Azhar.

- Syeikh Ahmad Bikir al-Husaini (Pen-syarah kitab Al-Umm ) pernah mengadakan pengajian hadis di rumahnya dan  dihadiri oleh Syeikh Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Kattani dan tokoh-tokoh ulama lain.

Demikianlah keadaan sejak dari zaman Syeikh Murtadha al-Zabidi hingga ke zaman Syeikh Mufti ‘Ali Jum‘ah, yang mempelajari Sahih al-Bukhari dari Syeikh ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari . Selain Sahih al-Bukhari, Syeikh ‘Ali Jum‘ah juga mengajar kitab-kitab hadist Kubro yang lain. Maka jelaslah bahwa al-Azhar senantiasa sibuk dengan majelis pengajian hadis dan penyampaian ijazah sanad.


6.Memberi perhatian seputar hadis terutama bidang Jarh wa Ta’dil , tashih dan tadhif
  Antara tokoh-tokoh al-Azhar dalam bidang ini:

- Syeikh Murtadha al-Zabidi menghasilkan sebuah kitab yang menakjubkan berjudul Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, di mana beliau mensyarah dan mentakhrij hadis-hadis Ihya’ ‘Ulumiddin, setebal 13 jilid. Bahkan tatkala Imam Tajuddin al-Subki  dalam Thobaqot kubro nya membuat sebuah Pasal tentang Hadits-hadits dalam kitab Ihya’ yang tidak beliau temui sanadnya,maka Imam Murtadha Al-Zabidi mengatakan bahwa beliau menemukan sanad-sanadnya serta asal-asalnya lalu beliau melakukan takhrij atas hadits-hadits tersebut.

- Syeikh Ahmad Syakir seorang alim al-Azhar yang mahir tentang hadis, ‘ilal al-hadits, al-jarh wa al-ta’dil dan lain-lain yang tiada bandingnya di zamannya.

- Al-Hafiz Syeikh ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari pernah duduk selama 40 tahun di Mesir. Beliau telah menghasilkan kira-kira 300 karya yang kebanyakannya berkaitan dengan  hadis.

Antara tokoh-tokoh lain dalam bahagian ini ialah Syeikh Ahmad ‘Abd al-Rahman al-Banna as-Sa’ati, Syeikh Husain ‘Abd al-Majid Hasyim, Syeikh Ahmad Ma‘bid, syeikhul muhadditsin di zaman ini, dan lain-lain.

 7.Menyusun kitab-kitab hadis besar berbentuk al-Jawami’
 Antara tokoh-tokoh al-Azhar dalam bidang ini:

- Syeikh Mansur ‘Ali Nasif, beliau menyusun kitab al-Taj al-Jami’ lil Usul.

- Syeikh Husain ‘Abd al-Majid Hasyim menyusun Ensiklopedia Hadist setebal 14 jilid. Namun, ia tidak diterbitkan hingga kini.

- Syeikh Habibullah al-Syinqiti mengarang kitab Zad al-Muslim fima ittafaqa ‘alaih bukhori wa muslim. Begitu banyak Ulama-ulama al-Azhar mempelajari Sahih Muslim dari beliau.

 8.Tahkik dan Takhrij manuskrip hadis ke dunia penerbitan.

Antara tokoh-tokoh al-Azhar dalam bidang ini:

- Syeikh ‘Abd al-Wahhab ‘Abd al-Latif, seorang alim yang giat mentahkik kitab-kitab ilmu. Antaranya ialah mentahkik kitab Tadrib al-Rawi yang diterbitkan dengan penuh teliti.

- Syeikh Sayyid Ahmad Saqr pula mentahkik 3 jilid dari kitab Fath al-Bari, Dala’il al-Nubuwwah oleh al-Bayhaqi, Adab al-Syafi‘i oleh al-Bayhaqi, al-Ilma‘fi taqyidis Sama’ oleh Qadhi ‘Iyadh dan lain-lain. Beliau memang seorang alim yang pakar tentang ilmu tahkik manuskrip.

Kesimpulan
Sesungguhnya Al-Azhar Asy-Syarif adalah Madrasah Hadits Terbesar di Dunia yang tidak ditemukan bandingannya dalam memperhatikan dan membahas Hadits dari begitu banyak segi bahasan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al-Azhar dan Ulama-ulama Al-Azhar.Seandainya semua usaha tersebut di buku kan , sungguh akan memerlukan penulisan yang sangat panjang.Maka sebenarnya dakwaan bahwa pengkajian hadits sudah terhenti di Azhar ataupun dakwaan bahwa kebiasaan dan budaya hadist di Al-Azhar sudah hilang ,sesungguhnya adalah dakwaan yang tidak berdasar yang di dakwa oleh orang yang tidak mengetahui.Semoga Allah melindungi Al-Azhar dari fitnahan dan dakwaan keburukan dan semoga Allah senantiasa mengjadikan Al-Azhar,bukan saja sebagai institusi yang konsen dalam satu bidang keilmuan saja,namun juga seluruh keilmuan yang ada.Amin

Syaikh Dr. Usamah Sayyid Azhar dalam Seminar Hadits & Muhadditsun fil Azhar

 

Share

posted under |

0 comments:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Powered by. Ryosatura. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Topic

Memuat...
Jika kamu ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu!

Tasawuf itu ihsan

Saudara-saudaraku yang budiman, jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni).

Tasawuf itu akhlaq (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta'budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur'aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma'rifat. Ma'rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; "Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni." (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A'immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).

Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho'illah As Sakandari, Imam Sya'roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.

Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu' hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.

Mengenai Saya

Foto Saya
Al-faqir dilahirkan di sebuah kota kecil Pangkalan Berandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Di kota kecil ini minyak bumi pertama sekali ditemukan di Indonesia (tepatnya di desa Telaga Said). Saat ini al-faqir sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syariah wal Qanun. Blog ini merupakan sebagai sarana saja bagi saya untuk sharing bersama teman-teman, silaturahmi dan menambah wawasan. Hehe jangan tertipu dengan nama blog "Sufi Medan" karena ini hanya nama blog saja, adapun si empunya sendiri bukanlah seorang sufi, hanyasaja mencintai orang2 sufi. Sufi adalah gelar yang hanya diberikan untuk orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Tasawuf dengan benar. Tentunya di sana sini masih banyak kekurangan, al-faqir sangat mengharapkan perbaikan dari Teman-teman semuanya. Saran dan masukan sangat saya nantikan. Dan bagi siapapun yang ingin menyebarkan artikel2 dalam blog ini saya izinkan dan saya sangat berterima kasih sudah turut andil dalam mengajak saudara-saudara kita kepada kebaikan dan yang ma'ruf. Terima kasih sudah berkunjung di blog orang miskin. Moga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi Teman-teman semuanya. Billahi taufiq, wassalamu'alaikum.

Followers


Recent Comments