Kafir-Mengkafirkan Refleksi Kebodohan Iman


Perlu pembaca ketahui bahwasanya pembahasan tentang kufur bagi ahli iman sangat penting karena siapa yang tidak tahu kufur maka dia tidak akan tahu apa itu iman sebagaimana jika dia tidak mengetahui malam, niscaya dia tidak mengetahui siang. Begitu pula siapa yang tidak mengetahui alam maka dia tidak akan mengetahui pencipta dan siapa yang tidak mengetahui siapa dirinya maka dia tidak akan mengetahui siapa Tuhannya.

Alasan inilah yang mengundang orang-orang berilmu dari dulu hingga sekarang untuk terus mengkaji dan menggali apa itu hakekat kufur sebab memang di daerah ini sangat berbahaya. Jika salah tafsir, maka anda akan memandang kebanyakan manusia ini buruk dan sesat sebab anda telah menghukuminya dengan kalimat ‘kafir’. Namun jika tafsir anda tepat maka anda tidak akan memandang kecuali kebaikan Tuhan ada dalam seluruh alam

Penulis melihat sebenarnya yang terjadi di antara umat Islam di atas di dalam memahami hakekat iman hanyalah perbedaan dari segi bahasa saja atau yang kita kenal dengan khilaf lafzhi tetapi akan bermakna dan berkesimpulan satu kecuali pemahaman Khawarij yang memang sedari awal kelompok inilah yang memunculkan perdebatan ini. Adapun firqah-firqah yang lainnya muncul akibat refleksi dari pemahaman Khawarij yang gemar mengkafirkan sesama umat Islam.. Bahkan takfir ini berlangsung hingga saat sekarang ini dimana banyak kita lihat ada sekelompok umat Islam yang mengkafirkan umat Islam yang lainnya. Penulis tidak berani mengambil kesimpulan yang terlalu cepat apakah kelompok ini adalah Khawarij itu sendiri atau mereka hanya bermental Khawarij saja. Tetapi yang jelas, penulis banyak menemukan kesamaan ciri dan pola pikir yang ada pada jama’ah takfir yang ada pada masa kita ini dengan jama’ah Khawarij pada masa lampau.

Dari uraian penulis di atas, dapat kita katakan bahwa dari segi premis, ada kesamaan antara Murjiah dengan Asya’irah dan kesamaan antara Mu’tazilah dengan ulama-ulama hadits. Namun dari segi kesimpulan, kita hanya menemukan persamaan antara ulama-ulama hadits dengan Asya’irah.

Akhirnya penulis menarik sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya semua kaum muslimin baik sunni maupun syiah, salaf maupun khalaf, sufi maupun salafi, timur maupun barat telah bersepakat dan membuat kaedah terhadap empat perkara di bawah ini:

1.Seorang muslim tidak bisa dihukumkan kafir (sebesar apapun dosanya, apalagi hanya karena masalah janggut, isbal, ziarah kubur dan bid'ah) selama ia mengucapkan kalimat “La ilaha illallah”. Dengan mengucapkan kalimat tauhid ini menjadikan seseorang yang tadinya bukan muslim kepada muslim. Dengan demikian menjadi haramlah darahnya, halal nikahnya, harus dimakamkan di perkuburan kaum muslimin, harus mewarisi dan mendapat warisan dan sebagainya. Walaupun sebenarnya dia tidak mengucapkannya dengan sesungguh-sungguhnya, selama kita tidak menemukan ciri kekafiran yang nyata daripadanya maka kita disuruh untuk menghukuminya dengan Islam, walaupun pada hakekatnya dia adalah seorang munafiq.

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَهَذَا حَدِيثُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ (رواه مسلم

Dari hadits di atas para ulama telah membuat sebuah kaedah yang sangat popular:

الأحكام يعمل فيها بالظواهر والله يعلم السرائر

2. Bahwasanya setiap manusia jika melakukan perbuatan dosa mungkin dosanya itu diampunkan oleh Allah kecuali syirik sebagaimana firman Allah Swt dalam surat An Nisa 48:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Bahkan dosa syirik itu sendiripun sebenarnya diampuni juga oleh Allah Swt, yaitu jika si pelaku syirik itu melakukan taubat kepada Allah.

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ (الأنفال: 38

Jadi sebenarnya tidak ada dosa yang tidak diampuni Allah Swt jika kita mau bertaubat sebab Allah maha pengampun lagi maha penyayang.


3. Apapun bentuk dosanya baik besar maupun kecil maka itu tidak akan membatalkan atau menghilangkan iman, ia hanya mengurangi iman. Daripada Abu Dzar Al Ghiffari radhiyallahu ‘anhu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي فَأَخْبَرَنِي أَوْ قَالَ بَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ (رواه البخاري

4. Di sana masih ada konsep syafa'at dalam Islam. Dimana ada sebuah layanan istimewa bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum pernah diberikan oleh umat-umat sebelumnya yaitu sebuah produk syafa’at dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi umatnya yang melakukan perbuatan dosa. Dengan syafa’at ini, maka siapapun yang mendapatkannya akan diampuni oleh Allah Swt tanpa syarat dan langsung dimasukkan ke dalam surga. Syafa’at ini ada sebab-sebabnya. Sebahagian sudah diinformasikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat hadits-haditsnya seperti membaca Alqur’an, bershalawat kepadanya dan sebagainya. Sebahagian sebab yang lain ini terpulang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mau diberikan kepada siapa daripada umatnya. Yang pasti, syafa’at ini akan diberikan kepada umat-umatnya yang mencintainya dan umat yang mencintai orang-orang yang mencintainya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah berkat keagungan dan keistimewaan Baginda kita Rasul Junjungan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perlu diingat bahwa syafaat ini bukan untuk orang-orang mukmin yang bertakwa, tetapi ia adalah untuk orang-orang mukmin yang melakukan perbuatan dosa.


خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لِأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى أَتُرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ لَا وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ (رواه إبن ماجه

Akhirnya penulis mengajak kepada semua kaum muslimin untuk tidak menempuh jalan Khawarij yang terlalu mudah mengkafirkan sesama kaum muslimin, tetapi tempuhlah jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai golongan yang selamat sebab mereka terus berpegang kepada Alquran dan Sunnah sebagai timbangan dalam segala ucapan dan tindakan.

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه (رواه مالك

Penulis al-faqir menghaturkan maaf yang sebesar-besarnya sebab di sana-sini pasti banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini. Semoga tulisan yang sederhana ini memberikan manfaat kepada kita semua. Kepada Allah saya mohon ampunan dan kepada pembaca saya mohon kemaafan.
Wabillahit taufiq. Wallahu a’lam.


Potongan Makalah dipresentasikan pada Kajian Debating Club PCI-Al Washliyah Mesir oleh Al Faqir Muhammad Haris F. Lubis Pelajar Univ. Al Azhar Kairo Fak. Syariah wal Qanun pada tanggal 10 November 2009 pkl. 19.00 waktu Kairo.

Share

posted under , |

0 comments:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Powered by. Ryosatura. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Topic

Jika kamu ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu!

Tasawuf itu ihsan

Saudara-saudaraku yang budiman, jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni).

Tasawuf itu akhlaq (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta'budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur'aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma'rifat. Ma'rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; "Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni." (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A'immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).

Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho'illah As Sakandari, Imam Sya'roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.

Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu' hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.

Mengenai Saya

Foto saya
Al-faqir dilahirkan di sebuah kota kecil Pangkalan Berandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Di kota kecil ini minyak bumi pertama sekali ditemukan di Indonesia (tepatnya di desa Telaga Said). Saat ini al-faqir sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syariah wal Qanun. Blog ini merupakan sebagai sarana saja bagi saya untuk sharing bersama teman-teman, silaturahmi dan menambah wawasan. Hehe jangan tertipu dengan nama blog "Sufi Medan" karena ini hanya nama blog saja, adapun si empunya sendiri bukanlah seorang sufi, hanyasaja mencintai orang2 sufi. Sufi adalah gelar yang hanya diberikan untuk orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Tasawuf dengan benar. Tentunya di sana sini masih banyak kekurangan, al-faqir sangat mengharapkan perbaikan dari Teman-teman semuanya. Saran dan masukan sangat saya nantikan. Dan bagi siapapun yang ingin menyebarkan artikel2 dalam blog ini saya izinkan dan saya sangat berterima kasih sudah turut andil dalam mengajak saudara-saudara kita kepada kebaikan dan yang ma'ruf. Terima kasih sudah berkunjung di blog orang miskin. Moga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi Teman-teman semuanya. Billahi taufiq, wassalamu'alaikum.

Followers


Recent Comments