Ibnu Taimiyah Pertama Yang Berpahaman Allah Berada Di Langit

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan ta'zhim saya kepada Imam Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah, seorang imam yang agung, kritikus nomor wahid di zamannya, imamnya para pengikut mazhab salaf yang murni, gudang khazanah keilmuan bagi generasi khalaf yang terus mengikuti, semoga Allah terus mencurahkan rahmat dan karomat kepada maqomnya yang suci. Izinkanlah al-faqir untuk menulis sedikit perihal tentang keagungan engkau ya Imam, walaupun dari sudut pandang yang sedikit agak berbeda, sudut pandang seorang dhoif dan faqir yang lagi mencari.

Dari judul di atas, jangan Saudara-saudaraku terburu-buru memahami bahwa saya telah berdusta sebab nanti anda akan temukan perkataan-perkataan beberapa ulama sebelum Ibnu Taimiyah  yang telah lebih dahulu juga mengatakan bahwa Allah di langit atau di atas 'arasy.

Pertama, anda harus mengecek perkataan tersebut riwayatnya, baik secara sanad maupun matan. Sebab sekarang banyak sekali nukilan-nukilan palsu yang tidak bertanggung jawab, atau nukilan-nukilan tersebut adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah, atau pun riwayat yang kuat, hanya saja pemahaman orang-orang belakangan tersalah dalam memahami teks perkataan para ulama tersebut. Toh kalaupun ada ulama yang mengucapkan perkataan: "Allah di atas langit atau Allah di atas 'arasy" maka mereka tidak mengucapkannya kecuali 'ala sabilil hikayah atau menetapkan lafazhnya (itsbatul lafzhi) saja; yaitu hanya mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh alquran: ar-Rahmanu alal arsyis tawa atau a'amintum man fis sama'. Tidak lebih lebih dari itu; yaitu tidak memaknakan (tafsir) atau tidak menetapkan maknanya (itsbatul ma'na)  bahwa Allah bertempat di langit atau di atas arasy.


Seperti riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata:

“Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”

Sebelum jauh mengecek kebenarannya secara dirayah (matan), maka ceklah secara riwayat (sanad). Ternyata riwayat ini adalah riwayat yang sama sekali tidak benar sebab ghoiru tsabit. Jika kita lihat di dalam kitab-kitab Adh-Dhu'afa', Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis”.[1]

Kalau sudah menemukan kelemahan pada sanad, maka tak perlulah kita berjalan lebih jauh mengecek matannya, sebab riwayat ini sudah batal dengan sendirinya, terlebih untuk masalah ushul aqidah seperti ini, lebih dipantangkan lagi kita menggunakan riwayat-riwayat yang dhoif, sebab dalam perkara aqidah, harus menggunakan dalil-dalil yang mutawatir, bukan riwayat dhoif perkataan seorang imam.

Saya tambah satu contoh yang lain. Imam Abu Hanifah misalkan. Kelak anda akan menemukan nukilan-nukilan yang disalahgunakan maknanya. Seperti perkataan Imam Abu Hanifah di bawah ini:

Suatu ketika al-Imam Abu Hanifah ditanya makna “Istawa”, beliau menjawab: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia telah menjadi kafir."[2]

Nah riwayat ini kuat, sekarang kita cek matannya, apakah mungkin seorang Imam Besar ini berkeyakinan bahwa Allah bertempat?! Simak perkataan beliau di bawah ini:

“Dan sesungguhnya Allah itu satu bukan dari segi hitungan, tapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tidak ada suatu apapun yang meyerupai-Nya. Dia bukan benda, dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia tidak memiliki batasan (tidak memiliki bentuk; artinya bukan benda), Dia tidak memiliki keserupaan, Dia tidak ada yang dapat menentang-Nya, Dia tidak ada yang sama dengan-Nya, Dia tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, dan tidak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupainya” .[3]
 
Dari perkataan sang imam bahwa "Dia bukan benda, dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia tidak memiliki batasan (tidak memiliki bentuk; artinya bukan benda), Dia tidak memiliki keserupaan" saja sudah dapat kita simpulkan bahwa Imam meyakini bahwa Allah tidak bertempat karena tempat adalah salah satu sifat daripada sifat-sifat makhluk. Belum lagi jika ditambah dengan perkataan-perkataan Imam Abu Hanifah yang lainnya yang masih banyak, seperti di antaranya tulisan beliau dalam al-Washiyyah: “Jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia?”. tapi saya kira cukup beberapa ini saja, mengingat kalau semua perkataan Imam dituliskan di sini, maka akan sangat memakan tempat. Lalu apakah Imam Abu Hanifah adalah seorang yang mempunyai pendirian yang berubah-ubah?! Tentu tidak, artinya perlu kita curigai ada makna lain di sana. Apa itu?

Bahwa fatwa kafir itu dikeluarkan oleh Imam  sebab orang yang mengatakan dua ungkapan tersebut adalah justru karena di dalamnya terdapat pemahaman adanya tempat dan arah bagi Allah. Padahal sesuatu yang memiliki tempat dan arah sudah pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam tempat dan arah tersebut. Dengan demikian sesuatu tersebut pasti baharu (makhluk), bukan Tuhan. [4]

Jadi tetap tidak boleh seorang di antara kita mengatakan "Aku bingung apakah Allah ada di langit atau di bumi.",  sebab memang Allah tidak di langit dan tidak pula di bumi. Jika kita katakan Allah di langit maka itu secara otomatis bermakna Allah berarah dan bertempat begitu pula jika kita katakan Allah di bumi itu bermakna berarah dan bertempat. Tentu sangat bertolak belakang dengan keyakinan Imam Abu Hanifah.

Jadi kesimpulannya, tetap Imam Abu Hanifah dan Imam Malik tidak pernah mempunyai pemahaman apalagi keyakinan bahwa Allah berada di atas langit atau arasy sebagaimana zhohir teks alquran, hanya kita saja orang-orang belakangan yang salah memahami kalam beliau yang dinukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan membelok makna sebenar yang diinginkan oleh Imam Abu Hanifah.   

Baiklah, sekarang kita masuk ke pembahasan inti. Hehe, jadi tadi belum intinya, masih mukaddimah saja. Ya saya buka memang dengan jawaban saya terlebih dahulu terhadap bantahan-bantahan yang akan muncul nanti setelah mereka membaca artikel  ini, sebab saya tahu bahwa artikel ini pasti akan dibantah dengan menggunakan kalam Imam Abu Hanifah dan Imam Malik di atas..

Bismillah…

Kita sama-sama telah menggunakan dalil; sama-sama menggunakan ayat-ayat alquran, sama-sama menggunakan hadits-hadits Rasulullah dan sama-sama menukil kalam para ulama. Lalu kenapa terjadi perbedaan, yang satu mengatakan Allah tak bertempat dan yang satu mengatakan Allah bertempat di langit dan di atas arasy? Jawabannya satu saja; PEMAHAMAN, dan terkadang TERJEMAHAN. Yah, pemahaman dan terjemahan kita sering berbeda dalam memahami dan menterjemahkan ayat-ayat alquran, hadits-hadits Rasulullah dan kalam para ulama.

Mari kita buktikan pelan-pelan! Kita ambil sampel Imam Ibnu Taimiyah rahmatullah alaihi dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Mari kita perhatikan bagaimana cara keduanya bisa berbeda memahami teks-teks agama.

Kita ambil ayat alquran:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى } [طه: 5]

"Yang Maha Rahman 'bersemayam' di atas 'arasy".

Siapa yang pertama sekali berani menafsirkan ayat istiwa' di atas dengan pemahaman: Allah bertempat di langit??  Allah bertempat di atas 'arasy?? Rasulullah kah?? Bukan..., Para sahabat?? Juga bukan..., Tabi'in?? Juga bukan..., Tabi' tabi'in?? Juga bukan. Lalu siapa??? Yah, jawabannya adalah Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda tidak percaya? Silahkan cek TKP langsung kepada turots-turots Islam baik salaf maupun khalaf, tidak ada ulama yang berani menafsirkan tempat dengan pemahaman makna tempat yang sebenar kecuali Imam Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya radhiyallahu anhum.

Baiklah, sebagaimana manhaj saya biasanya, berikut akan saya format dalam bentuk tanya jawab agar lebih mudah dipahami oleh kita-kita yang awam.

T: Bukankah  Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat di atas adalah menempuh manhaj salaf?

J: Owh tentu tidak. Ibnu Taimiyah merasa dirinya sudah menempuh mazhab salaf, padahal belum, melainkan Ibnu Taimiyah hanya menempuh mazhab salaf dengan salaf menurut persepsi beliau  Makanya banyak para ulama di masa beliau yang menyanggah. Namun sayang, para ulama penyanggah yang mayoritas jumlahnya itu dibandingkan dengan yang memuji dan mengikut, dianggap sebagai musuh oleh para pengikut Ibnu Taimiyah belakangan.

T: Lalu bagaimana sebenarnya, manhaj  salaf dalam memahami ayat istiwa' di atas?

J: Berbicara ayat istiwa' berarti kita membicarakan bagian daripada ayat-ayat sifat. Yang benar, salaf itu: membiarkan ayat-ayat sifat sebagaimana datangnya tanpa menafsirkannya baik dengan mengambil makna hakiki (zhohir) maupun makna majazi (takwil). Inilah yang dimaksud dengan perkataan punggawa-punggawa salaf radhiyallahu anhum di bawah ini:

وقال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟ فكلهم قالوا لي : أمروها كما جاءت بلا تفسير

"Dan Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza'iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa'ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah? Maka semuanya berkata kepadaku: "Biarkanlah ia sebagaimana ia datang tanpa tafsir."

Tidak mentafsirkan ayat itu dengan tafsiran apapun. Ya biarkan saja. Lha wong ayatnya memang begitu adanya. Nda' usah diperdalam maknanya apa! Nda' usah ditakwil! Serahkan saja makna dan hakekat ayat itu kepada Allah Ta'ala. Allah yang tahu artinya apa. Tugas kita hanya mengimani dan mensucikan (tanzih) Allah dari segala sifat kekurangan (naqsh) dan penyerupaan (tasybih). Ini pula yang dimaksud dengan perkataan Imam Sufyan bin Uyainah radhiyallahu anhu:

كل ما وصف الله تعالى به نفسه فتفسيره تلاوته و السكوت عنه

"Setiap sesuatu yang Allah menyifati diri-Nya dengan sesuatu itu, maka tafsirannya adalah bacaannya (tilawahnya) dan diam daripada sesuatu itu.[5]

Sufyan bin Uyainah ingin memalingkan kita dari mencari makna zhohir dari ayat-ayat sifat dengan cukup melihat bacaannya saja--------> tafsiruhu tilawatuhu: Tafsirannya adalah bacaannya. Bacaannya adalah melihat & mengikuti huruf-perhurufnya, bukan maknanya, bukan--------> tafsiruhu ta'rifuhu. Tidak demikan bukan?

Dan kalau sudah dibaca ayat-ayat sifat, ya sudah selanjutnya diam saja. Resapi di dalam jiwa. Imani! Serahkan maknanya kepada Allah, titik.

Inilah manhaj salaf dalam memahami ayat-ayat sifat yang sering dikenal dengan istilah tafwidh.

Mayoritas mereka tidak mau mentafsirkan ayat-ayat sifat,  jika ditafsirkan secara zhohir maka akan terjerumus kepada jurang tasybih, sebab lafazh-lafazh ayat sifat sangat beraroma tajsim dan secara badihi (otomatis) pasti akan menjurus ke sana. Begitu pula mereka tidak mau melakukan takwil  sebab wa ma ya'lamu ta'wilahu illallah…

Imam Malik gak mau membahas masalah ayat sifat ini. Sampai-sampai dia pernah mengusir orang yang menanyakan istiwa'nya Allah:

وما روي عن عبد الله بن الوهاب عن الإمام مالك بن أنس من أنه جاءه رجل فقال له: يا أبا عبد الرحمن {الرحمن على العرش استوى} فكيف إستوى؟ قال: فأطرق مالك رأسه حتى علاه الحضاء, ثم قال: الإستواء غير مجهول, و الكيف غير معقول, و الإيمان به واجب و السؤال عنه بدعة, وما أراك إلا مبتدعا. فأمره أن يخرج.

"Dan apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Wahhab dari Imam Malik bin Anas bahwasanya datang kepada beliau seorang dan berkata: "Wahai Abu Abdurrahman (Yang Maha Rahman bersemayam di atas arasy) maka bagaimana bersemayamnya?" Kemudian Imam Malik tertunduuuk kepalanya dan baru mengangkatnya kembali setelah peluh panas kemarahannya menyadarkan dirinya, lalu berkata: "'Bersemayam' bukan tidak diketahui, dan bagaimananya tidak tercerna akal, mengimaninya wajib, menanyakannya adalah bid'ah dan aku tidak melihat dirimu melainkan ahlu bid'ah. Maka Imam Malik menyuruhnya keluar."[6]

Bersemayam itu dalam kamus bahasa Indonesia artinya duduk. Begitu pula dalam kamus bahasa Arab, artinya jalasa. Kalau anda menginginkan bersemayam dengan makna lain yang bukan duduk, maka ciptakanlah bahasa baru yang dapat mengungkapkan maksud yang anda inginkan. Jangan mencaplok kata "bersemayam" karena ini sudah dilegalisir oleh kamus besar  maknanya adalah duduk.

Jangan disalahpahami bahwa Imam Malik melegalisasi kita untuk memaknakan bahwa Allah benar-benar bersemayam atau duduk di atas arasy hanya karena beliau mengatakan; al-istiwa' ghoiru majhul, namun  maksud Imam Malik adalah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.[7]

T: Lalu apa bedanya dengan manhaj Ibnu Taimiyah dalam menafsirkan ayat-ayat sifat?

J: Nah, pertama: harus kita telusuri dari awal yang paling mendasar sekali bahwa Ibnu Taimiyah tidak mengakui ayat-ayat sifat itu sebagai ayat mutasyabihat yang tidak diketahui maknanya itu. Di sinilah masalahnya yang paling mendasar. Ini juga disebabkan karena manhaj beliau yang  tidak mengakui adanya majaz di dalam alquran. Sehingga bagi Ibnu Taimiyah semua ayat-ayat alquran harus jelas maknanya. Seolah-olah beliau melupakan firman Allah Ta'ala adalah juga memaksudkan untuk ayat-ayat sifat:
هُوَ الَّذِي أَنزلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ

"Dialah yang menurunkan kepadamu kitab daripadanya ada ayat-ayat muhkamat (jelas maknanya) itulah induk alquran dan yang lainnya adalah ayat-ayat mutasyabihat (samar maknanya). Dan adapun orang-orang yang di hati mereka ada kecondongan kepada sesat maka akan mengikuti kesamarannya karena mencari fitnah dengan mencari takwilnya. Padahal tidak ada yang tahu takwilnya kecuali Allah…" (Ali Imran: 8)

 Simak perkataan Ibnu Taimiyah di bawah ini:

"…maka sesungguhnya aku tidak mengetahui dari seorang umat salafpun bahkan para imamnya sekalipun, tidak pula Imam Ahmad bin Hanbal serta yang lainnya telah menjadikan ayat-ayat mutasyabihat termasuk ke dalam ayat ini (Ali Imran di atas) hingga tidak ada seorangpun yang tahu maknanya dan aku tidak mendapati mereka (salaf) memposisikan nama-nama dan sifat-sifat Allah seperti kalam 'ajami (asing) yang tidak dipahami. Justru mereka mengatakan:  (ayat-ayat sifat itu) adalah kalimat-kalimat yang mempunyai makna yang shohihah."[8]

Kedua hal inilah yang menjadi sebab kenapa Ibnu Taimiyah lebih memilih untuk menetapkan makna (itsbatul ma'na) dan tidak mau berhenti hanya dengan menetapkan lafazh saja (itsbatul lafzhi) kemudian menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala (tafwidh). sebagaimana yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf, justru beliau menafsirkan dengan mengambil makna zhohirnya (lughawi hakiki) sambil mengkhususkan kaifiyat yangmana Allah mempunyai kaifiyat sendiri yang kaifiyatnya itu tidak sama dengan kaifiyat sifat makhluk. Di sini sebenarnya beliau sudah tergelincir satu lubang, sebab beliau sudah menetapkan kaifiyat bagi Allah walaupun kaifiyatnya beda dengan kaifiyat makhluk. Sementara Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak hanya menafikan wujud sifat jismi makhluk tetapi juga kaifiyatnya.  

T: Apa yang menyebabkan Ibnu Taimiyah memberanikan diri untuk memaknakan secara zhohir ayat-ayat sifat?

Sebab beliau rahimahullah berpikiran bahwa salaf memahami betul ayat-ayat sifat. Namun sayang, pada perjalanan berikutnya, Imam Ibnu Taimiyah tidak mampu   memahami ayat sifat sebagaimana yang dipahamai salaf. Di sinilah masalahnya, begitu inginnya mencontoh kepada salaf, imam Ibnu Taimiyah memaksakan diri untuk mengetahui hal yang sama apa yang diketahui oleh salaf; yaitu mengetahui makna ayat-ayat sifat. Masalahnya lagi, salaf tidak pernah membeberkan apa yang mereka ketahui tentang makna ayat-ayat sifat yang mutasyabihat itu, hingga akhirnya Ibnu Taimiyah menempuh jalan lain dengan mengambil makna asalnya; yaitu makna zhohir atau hakiki lughawinya (makna bahasa). Mungkin Ibnu Taimiyah menyangka bahwa yang dipahami oleh salaf tentang makna ayat-ayat sifat adalah makna zhohirnya, padahal bukan itu. Lalu apa? Inilah sulitnya, kita tidak mengetahui apa-apa yang ada di dalam dada mereka tentang faham kecuali talaqqi langsung dengan garis keturunan keilmuan mereka.

T: Lalu kita kembali ke ayat istawa alal arsy itu sendiri, sebagaimana manhaj beliau yang telah anda ceritakan bahwa beliau mengambil makna zhohir, apakah Ibnu Taimiyah juga mengartikan dengan pengertian zhohir bahwa Allah betul-betul berada di atas arasy hingga mengandung pengertian tempat?

J: Ya betul, simak kalam Ibnu Taimiyah berikut:
"…sama saja apakah arasy itu meliputi makhluk-makhluk sebagaimana meliputinya bola terhadap isinya atau jika dikatakan arasy itu berada di atas makhluk-makhluk tanpa meliputinya seperti permukaan bumi yang kita berada di atasnya ini dengan perutnya[9] atau seperti kubah dengan apa-apa yang ada di bawahnya atau dengan misal-misal lainnya. Berdasarkan kedua pertimbangan tersebut maka arasy itu di atas makhluk-makhluk dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atasnya (arasy) dan sementara hamba dalam tawajjuh-tawajjuhnya menghadap ke arah atas bukan ke bawah."[10]

Dari kalamnya di atas, dapat dipahami bahwa menurut paham Ibnu Taimiyah mengatakan kita berada di bawah, dan di atas kita adalah arasy dan di atasnya lagi adalah Allah. Kalau diumpamakan seperti bangunan bertingkat, maka di tingkat pertama ada kita, di tingkat kedua ada arasy dan di tingkat ketiga ada Allah. Jadi Ibnu Taimiyah sudah betul-betul memposisikan Allah tepat sejajar di atas makhluk dan 'arasy. Ini sudah jelas menisbahkan arah dan tempat kepada Allah Ta'ala. Belum ada ulama kaum muslimin sebelum Ibnu Taimiyah yang mengucapkan kalam seperti kalam Ibnu Taimiyah di atas. Silahkan ditelusuri turots-turots Islam kita, baik salaf maupun khalaf. Maha suci Allah dari apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah.

Jadi Ibnu Taimiyah mengartikan istawa alal arsy dengan arti asal yang sebenar; yaitu bersemayam di atas arasy. Menetapkan sifat semayam kepada Allah secara otomatis (badihi aqli)[11] akan menetapkan tempat bagi Allah. Dalam akal sederhana setiap orang tentulah yang namanya bersemayam atau duduk itu pasti membutuhkan tempat duduk, dan terbayang makna gerak (harakah) bagi Allah, kalau sudah bergerak tentu ada perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain dan konsekwensi-konsekwensi logis yang laiinya, sementara kita diwajibkan untuk mensucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari itu semua.  

T: Ah terlalu memfilsafatkan!

J: Owh tidak, ini belum masuk ke ranah filsafat, filsafat jauh lebih rumit dan menggunakan kerangka logika yang lebih rinci (tafshil) dari ini semua dan hanya orang-orang khusus yang diwajibkan untuk menguasainya sebagai benteng pertahanan guna melindungi awam dari syubhat-syubhat yang datang dari berbagai aliran filsafat   baik timur maupun barat. Ini baru logika awam yang sifatnya dharuri dan badihi seporti satu tambah satu sama dengan dua, tidak boleh tiga, empat dan seterusnya, kalau dikatakan bola maka kita pasti mikirnya bulat dan kalau dikatakan berlari maka kita pasti mikirnya orang berjalan yang bergerak cepat . Bukankah di dalam alquran kita di suruh menggunakan akal kita? Bukankah agama ini diturunkan sesuai dengan fitrah dan akal?

T: Iya tapi jangan mengakal-akali!

J: Owh tidak, kita tidak mengedepankan akal daripada wahyu sebagaimana yang dituduhkan oleh mulut-mulut yang centil itu, kita Asya'iroh Ahlus Sunnah wal Jama'ah menggunakan akal hanya sebagai perangkat, pendukung dan penguat untuk memahami wahyu. Bahkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah juga dibangun dengan perangkat burhan-burhan 'aqli yang pasti seperti Allah tanpa ukuran, tanpa batas, tanpa dimensi, tanpa tempat dan kegiatan-kegiatan tanzih lainnya itu merupakan produk akal yang dibimbing wahyu dan wahyu yang dipahami dengan akal, bukan dengan dengkul..

T: Baiklah, kalau begitu, apakah Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya bisa dikatakan menempuh jalan tajsim sebagaimana yang ditempuh oleh kaum mujassimah?

J: Walaupun pemahamannya ini secara otomatis akan mengakibatkan kepada pemahaman Allah bertempat, namun Ibnu Taimiyah dan pengikutnya tetap tidak mau dikatakan sebagai kaum mujassimah. Bagaimana mungkin beliau adalah seorang yang anti terhadap kaum mujassimah tetapi beliau ikut kepada fahaman mujassimah.

Mereka beralasan bahwa mereka hanya memahami makna jismi makhluk tsubut bagi Allah secara wujud dan kaifiyat, namun kaifiyatnya memiliki kaifiyat tersendiri; kaifiyat yang layak bagi Allah, seperti Allah memang punya tangan lengkap dengan makna tangan itu secara bahasa (lughawi) tetapi tidak sama (kaifiyat) tangan-Nya dengan tangan makhluk, punya wajah tetapi tidak sama dengan wajah makhluk dan bersemayam (duduk) di atas arasy (singgasana) tetapi tidak sama dengan bersemayamnya makhluk. Sangat berbeda dengan kaum mujassimah yang memang memahami makna sifat-sifat jismi tsubut bagi Allah secara wujud dan kaifiyat namun dengan kaifiyat yang sama terhadap makhluk sekaligus, seperti; Allah punya tangan seperti tangannya makhluk, Allah punya wajah seperti wajahnya makhluk dan Allah bersemayam seperti bersemayamnya makhluk..

Nah, begitu berlebihannya (ghuluw) menetapkan sifat Allah ini (itsbat), mereka mengatakan bahwa kita harus menetapkan semua sifat yang Allah telah mensifati diri-Nya. Padahal tidak semua sifat bisa ditetapkan kepada Allah Ta'ala. Seperti hadits qudsi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di bawah ini:

يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ

"Wahai Anak Adam, aku sakit tapi kamu tidak jenguk Aku." Anak Adam berkata: "Bagaimana aku menjengukmu sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?" Allah berfirman: "Apakah kamu gak tahu kalau Hambaku si fulan sakit dan kamu tidak menjenguk dia. Tak kah kamu tahu kalau kamu jenguk dia kamu akan menemukan Aku." (HR Muslim)"

Pantaskah kita katakana Allah memang sakit, tetapi dengan sakit yang layak bagi-Nya, sakit yang tidak sama dengan sakit makhluk?! Subhanallah, Maha Suci Allah dari perkataan yang demikian.
 
T: Hm...benar juga ya, baiklah kita kembali kepada alasan mereka tadi, apakah alasan mereka itu dapat mengelakkan mereka dari tuduhan tajsim?

J: Hanya sedikit, yaitu dari sisi sama tidaknya kaifiyat itu antara kaifiyat sifat Allah dengan sifat makhluk, selebihnya tidak, yaitu dari sisi penetapan wujud sifat-sifat jismi dan tsubut kaifiyat-kaifiyatnya; mereka sudah menyamakan; makhluk punya dan Allahpun punya, hanya saja Allah mempunyai kaifiyat tersendiri yang khusus. Padahal Imam Malik bilang:

 الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع   (رواه البيهقي في الأ سماء والصفات)

"Yang Maha Rahman 'bersemayam' di atas 'arasy sebagaimana Dia menyifati diri-Nya dan tidak dikatakan "bagaimana" dan  "bagaimana" itu harus dibebaskan daripada-Nya.

T: Bagaimana jika mereka bersikeras bahwa bersemayam di situ bukan bersemayam dalam artian duduk dan terbebas dari harakah?

J: Ya, silahkan saja, asalkan buat kosa kata baru dengan kamus yang baru pula, sebab kata semayam sudah dilegalisir oleh kamus besar hanya untuk makna duduk, hanya saja semayam adalah duduknya raja dan duduk adalah duduknya orang biasa.

T: Manusia mendengar, melihat dan mengetahui. Bukankah Allah juga mendengar, melihat dan mengetahui? Bukankah ini juga menyamakan Allah dengan makhluk (tasybih)?

J: Tasybih yang yang kita maksud selama pembahasan tadi bukan tasybih dalam hal maknawi tetapi dalam hal jusmani (tajsim), yaitu penyerupaan yang bersifat jismi dan hissi. Mendengar, melihat dan mengetahui tidak bisa disamakan dengan bersemayam, tersenyum dan turun sebab yang pertama sifat maknawi dan yang kedua sifat jismi  Yang pertama tidak mengurangi kesempurnaan Allah dan yang kedua mengurangi kesempurnaan Allah. Sifat-sifat maknawi di atas sangat layak dan pantas dinisbahkan kepada Allah sebab tidak berkesan kepada tubuh, gerak dan dimensi-dimensi jasmani lainnya. Adapun bersemayam, tersenyum dan turun maka sangat berkesan kepada dimensi-dimensi jasmani.  Dan Allah maha suci dari sifat dari itu semua.   

T: Yah yah…owh begitu rupanya. Baiklah kita kembali ke bahasan arasy, apakah dengan mengatakan Allah di atas arasy sudah berarti mengatakan bahwa Allah bertempat?

J: Ya tentu saja, sebab arasy adalah makhluk dan setiap makhluk adalah tempat, sampai sel kita yang paling kecil sekalipun adalah juga tempat dimana sel menjadi tempat bagi organ-organ sel yang lebih kecil, apatah lagi arasy yang jauh lebih besar.


T: Bagaimana jika mereka berkata; "Allah berada di langit atau di atas 'arasy, tapi kami tidak bermakud tempat."?

J: Jadi maksud kalian apa?

T. "Ya Allah di langit dan di atas 'arasy."

J: " Allah di langit dan di atas 'arasy."-----------> Ini kalian ngomong kaya' gini; 'ala sabilil hikayah atau memahami di- dengan makna tempat?

T: "Gak tau"


J: Nah kalau gak tau, berarti aqidah kalian ngawur, gak jelas dan gak tegas. Sementara aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah aqidah yang jelas dan tegas; Allah ada tanpa tempat.  Selesai. Tetapi jika kalian mengatakan "Allah bersemayam di atas arasy" itu hanya 'ala sabilil hikayah saja; yaitu menghikayatkan ;mengucapkan kembali tanpa bermaksud memaknakan atau mentafsirkan seperti misalkan sekarang saya mengucapkan firman Allah: "fa'buduni" tanpa bermaksud benar-benar menyuruh kalian menyembah saya, maka tidak mengapa, kamipun sama seperti kalian, sama seperti salaf, sama seperti khalaf dan seluruh umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah hanya mengucapkan kalam itu 'ala sabilil hikayah saja, yaitu sekedar mengutip atau mengucapkan kembali apa yang diucapkan alquran tanpa tafsir, takyif, ta'thil, takwil, tasybih dan tamtsil.


T: Apakah anda yakin  yang di atas langit sana adalah tempat?

J: Ya saya yakin bahwa segala selain Allah adalah makhluk, dan selama sesuatu itu masih mempunyai ujung maka dia adalah makhluk. Dan setiap makhluk adalah tempat sebagaimana yang saya katakan di atas. Dan selain makhluk itu adalah Allah. Jika sudah keluar dari alam makhluk, maka tak bisa lagi dikatakan di samping, di depan, di belakang, di tengah di bawah dan di atas. Artinya; Allah tidak di atas langit. Sebab jika Allah di atas langit, maka di langit kutub utara ada Allah, di langit kutub selatan juga ada Allah, di langit timur ada Allah dan di langit barat juga ada Allah, lalu bagaimana di tengah-tengahnya, yaitu bumi sampai ke perut-perutnya? Apakah tidak ada Allah? Jika ada, maka tidak ada bedanya antara anda dengan kaum Ittihad dan Hulul yang mengatakan Allah menyatu dengan makhluk dan bumi, dan jika tidak ada, maka  tak obahnya tuhan berbentuk seperti bola pimpong yang di tengah-tengahnya kosong/kopong. Maha suci Allah dari itu semua. Jadi serba salah bukan?!

Maka jalan amannya adalah tetap aqidah Ahus Sunnah wal Jama'ah; Allah ada tanpa tempat.

Saudara-saudaraku yang budiman, demikianlah sengaja saya buat dalam bentuk dialog agar lebih mudah dipahami.

Sebenarnya jauh-jauh hari Allah sudah memberikan kaedah kepada kita agar kita terhindar daripada mentasybihkan Allah:

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Tidak  serupa dengan-Nya segala sesuatu dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat" (Asy-Syura: 11)

Makam Imam Ibnu Taimiyah nawwarallahu dhorihatahu di areal tanah pemakaman ulama2 sufi di Damaskus

Jika mau saja sedikit berpikir, maka tidak akan kesulitan dalam memahami kesucian Allah. Guru kami Al-Arif Billah Sayidi Syaikh Yusuf Bakhour Al Hasani selalu mengajarkan ke telinga kami dan terus berulang-ulang kalimat Imamnya para ahlul bait yang suci Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq qaddasallahu sirrahuma:

كل ما خطر ببالك فالله بخلاف ذالك

"Segala apa yang terlintas di benak kamu, maka Allah tidak sama dengan itu"

Wallahu a'lam bihsawab..



Kairo, 31 Maret 2011, pkl: 03.04 pm
Al-Faqir ila maghfirati Rabbih
Muhammad Haris F. Lubis



[1] Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya
[2] Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad
[3] Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan Syarh-nya karya Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 30-31
[5] Al Asma' wa Ash-Shifat Al Baihaqi 314
[6] Ibid: 408
[8] Majmu' Fatawa 13/294
[9] Ini menjadi bukti bahwa Imam Ibnu Taimiyah belum begitu yakin  bahwa bumi ini  bentuknya memang bulat seperti bola sebab beliau masih mencari-cari perumpaan antara Allah dan makhluk dengan tiga benda yang berbeda-beda, yaitu bola, permukaan bumi dan kubah terhadap naungannya..
[10] Majmu'atul Fatawa Ibnu Taimiyah Cet. Darul Wafa' 3/338
[11] Darurat akal manusia yang normal dimana sebuah kesimpulan adalah hasil daripada sesuatu yang lainnya, tidak bisa tidak. Seperti 1+1=2, tidak boleh 2, 3, 4 dst.


Share

posted under , |

40 comments:

Abu Zein Fardany mengatakan...

Memuaskan...

Anonim mengatakan...

Sudin (1)
terkait tulisan di blog ini, di bagian:
-=-=-=-
Sufyan bin Uyainah ingin memalingkan kita dari mencari makna zhohir dari ayat-ayat sifat dengan cukup melihat bacaannya saja--------> tafsiruhu tilawatuhu. Bacaannya adalah huruf-hurufnya, bukan maknanya--------> tafsiruhu ta'rifuhu. Tidak demikan bukan?
-=-=-

bisakah dibantu, dijelaskan makna kata tilawah, dan bedanya dgn qiro'at?
karena saya telah baca 1 artikel yg sama isinya, di
http://fathurkamal.staff.umy.ac.id/?p=7
dan di
http://putrapurnama.wordpress.com/2009/02/17/qiro’ahtilawahtadarusdan-tadabbur/

ada kesan, seolah tilawah tdk hanya membaca hurufnya, tapi juga mengetahui maknanya, agar paham, dijalankan/diikuti dan diagungkan.

Komunitas Salafi justru dgn kalimat Sufyan bin 'Uyainah, menjadikan dalil, karena tafsirnya adalah tilawahnya, maka karena tafsir berarti penjelasan, mereka memahaminya bahwa teks yg tertulis apa adanya itulah maknanya, sehingga jadi dalil itsbat lafdzhi dan itsbat ma'na , yg mana ma'nanya adalah dzhohir teksnya.

(bersambung)

Anonim mengatakan...

Sudin (2)

pemahaman lain dari mereka, bahwa sifat mengikut yg disifati. Karena itu, tak usah takut memakai dzhohir teksnya, karena pasti sifat Allah berbeda dgn makhluk. Ini sesuai dgn Al-Ikhlash ayat 4, Asy-Syuro ayat 11, dan Al-An'am ayat 103. Apalagi mereka berdalilkan hadits Dajjal , yg menyatakan mata Dajjal Ba'ur (picak), dan Allah tdk seperti itu. Serta Hadits yg menyatakan Nabi mengatakan Allah melihat dan mendengar sambil jarinya menunjuk ke mata dan telinga. Serta juga dalil perkataan salah seorang ulama (saya lupa namanya), yg berkata bahwa Tasybih hanyalah bila menyatakan Tangan Allah seperti tangan makhluk....bila tdk ada pembandingan (kata seperti, bagai, umpama), maka itu bukan Tasybih.

Ini menurut mereka lho. saya pribadi utk ayat mutasyabihat, berpegang pd Tafwidh, sesuai penjabaran di artikel ini dan juga di http://sufimedan.blogspot.com/2011/03/rahasia-ayat-ayat-mutasyabihat.html.

Karena lebih aman, dan dlm beberapa hadits, sahabat sering berkata Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. serta beberapa kajian hadits, kadang sahabat bisa salah paham/tafsir terhadap beberapa ayat ....ini tdk terkait dgn khobar terkait Allah...maka apalagi bila terkait Allah, kita bisa saja salah paham dan salah menetapkan. Dari pada salah, maka diikuti dzhohir Ali 'Imron ayat 7, kita serahkan saja kpd Allah, sambil itsbat lafdzhi, mengimaninya, namun tafwidh ma'naa. dan bila ma'naa sudah tafwidh, pasti tdk membahas Kaifa.

terkait Kaifa...kata Bilaa Kaifa ini kan perkataan ulama, bukan Nabi. apa ada dalil yg shorih yg menjelaskan Bilaa Kaifa, baik dari Hadits yg shohih/hasan, mau pun Al-Quran?

lalu apa pemahaman atau makna dari kata Bilaa Kaifa:
(1) apa ada Kaifa thd Allah, tapi beda dgn makhluk? atau ada Kaifa, tapi tdk mau menanyakan dan membahasnya? atau
(2) tidak ada Kaifa sama sekali (mutlak tdk ada)?

karena dari kalam salafus-sholih, terutama sekali Imam Malik, yg riwayatnya banyak dan dikaitkan dgn kasus Istiwa, saya menangkap ada 2 pemahaman, yaitu tdk ada Kaifa (no 2) atau ada tapi tdk dibahas, atau ada tapi tdk sama dgn makhluk (no 1 dan mereka berpegang pd pemahaman yg saya sampaikan di atas sebelumnya)

di luar kerumitan kajian Asma wa Shifat..saya berpegang pd Tafwidh utk mutasyabihat yg otomatis (badihi) mengarah pd tajsim dan tasybih, secara alamiah menurut konsep bahasa mau pun logika. Ada pun yg Ma'nawi, walau mungkin sama dgn yg dimilik makhluk, namun karena tdk otomatis mengarah pd tajsim dan tasybih, terlebih menurut konsep bhs Arab, maka saya itsbatkan, terlebih bila jelas kalamnya (seperti mengandung kata Innaa, Kaana, Annaa, Qod) dan begitu Nabi serta ulama salafus-sholih menjelaskan serta meyakininya. saya menghindar takwil, kecuali memiliki riwayat tafsir yg kuat dari shahabat dkk (salafus-sholih).

dan saya memandang dlm ayat mutasyabihat.... apakah tafwidh, takwil, atau itsbat ala Salafi...ini semua bagian dari ijtihad, karena tdk ada dalil yg shorih dan jelas serta rinci utk masalah ini. dan secara netral, saya melihat, ketiga pendekatan ini tetap menolak tasybih dan tajsim dgn pendekatan dan penjabaran yg berbeda.

saya hanya tdk suka bila ada yg terlalu fanatik, dan menyalahkan pihak lain, terutama ini dilakukan oleh yg pro Itsbat ala Salafi.

ini dari saya...yg pasti banyak salahnya, karena saya awam, tdk 'alim sebgm Mas Sufi Medan. saya tdk mahir menjabarkan sebagaimana Mas Sufi Medan, dan juga tdk mahir menyampaikan pemahaman saya ini apalagi membandingkan dan adu pendapat dgn komunitas Salafi yg punya metode "itsbat" ala mereka. Lagian saya kurang kompeten, dan ummiy, bukan penuntut ilmu apalagi ustadz macam Mas Sufi Medan.

Wassalam - Sudin

Sufi Medan mengatakan...

Saudaraku Sudin yang dicintai Allah. Sebelumnya marhaban di blog al-faqir yang penuh dengan kekurangan.


bisakah dibantu, dijelaskan makna kata tilawah, dan bedanya dgn qiro'at?

Jawab:
Tilawah secara bahasa berasal dari kata (تلا) yang berarti mengikuti (تبع). Tetapi secara 'uruf (kebiasaan), tilawah ini digunakan orang-orang Arab untuk mengungkapkan makna: membaca. Jadi tilawah ini sama dengan qiro'ah yang juga secara bahasa berarti mengikuti (تبع), namun mengikuti yang dimaksud adalah mengikuti huruf2 dengan melihat atau melafazhkannya. (Lihat Mu'jam Wasith)

Sufi Medan mengatakan...

Tilawah itu bukan mencari makna, mencari makna di dalam bahasa Arab namanya ta'rif.

Sufi Medan mengatakan...

Hadits yg menyatakan Nabi mengatakan Allah melihat dan mendengar sambil jarinya menunjuk ke mata dan telinga.

-----------------------
Jawab: Itu adalah bahasa taqrib (pendekatan) agar kalam lebih baligh, lebih ta'kid & lebih kuat. Bahwa Allah memang betul2 melihat, bahwa Allah memang betul2 mendengar. Bukan berarti Allah punya mata, Allah punya telinga, hanya dengan berdalilkan Nabi pernah mempraktekkan pernah menunjukkan mata dan telinga. Sama seperti ketika saya mengatakan nasi menangis jika dibuang sambil saya menunjukkan mata saya, bukan berarti nasi mempunyai mata. Pahamilah bahasa tubuh ini. Tidak mesti semuanya harus diartikan secara zhohir (leterlek)

Sufi Medan mengatakan...

Tasybih hanyalah bila menyatakan Tangan Allah seperti tangan makhluk....bila tdk ada pembandingan (kata seperti, bagai, umpama), maka itu bukan Tasybih.

----------------
Jawab: Tasybih tidak hanya menyatakan tangan Allah seperti tangan makhluk, tetapi juga dengan mengatakan Allah mempunyai tangan. Artinya Allah sama2 dengan makhluk mempunyai tangan.

Ini tidak ada bedanya, seperti anda mengatakan kera mempunyai tangan, kangguru mempunyai tangan, tupai mempunyai tangan, tetapi tangannya tidak sama dengan tangan manusia.

Sufi Medan mengatakan...

Bilaa Kaifa:
(1) apa ada Kaifa thd Allah, tapi beda dgn makhluk? atau ada Kaifa, tapi tdk mau menanyakan dan membahasnya? atau
(2) tidak ada Kaifa sama sekali (mutlak tdk ada)?

--------------------
Yang benar adalah yang kedua, sebab kaifa yang mashdarnya adalah kaifiyat ini, hanyalah ruang 3 dimensi disematkan kepada makhluk, bukan kepada Allah. Allah wajahpun tak punya, tanganpun tak punya, kakipun tak punya. So apanya yang mau dikaifiyatkan?!

Sufi Medan mengatakan...

dan saya memandang dlm ayat mutasyabihat.... apakah tafwidh, takwil, atau itsbat ala Salafi...ini semua bagian dari ijtihad, karena tdk ada dalil yg shorih dan jelas serta rinci utk masalah ini.

--------------------
Jawab: la ijtihada fin nash (Tidak ada ijtihad jika nashnya ada). Nash2 tentang Allah tidak serupa dengan makhluk bertabur, jadi berbeda dengan masalah fiqih, tidak boleh berijtihad dalam masalah aqidah ini. Kita harus mengikuti apa kata Allah sendiri, dan apa kata Rasulullah.. (la ijtihada fil aqidah)

Sufi Medan mengatakan...

dan secara netral, saya melihat, ketiga pendekatan ini tetap menolak tasybih dan tajsim dgn pendekatan dan penjabaran yg berbeda.

--------------------

Netral itu tidak mesti berada di tengah2 dan tidak mesti takut menyalahkan sebuah kekeliruan. Yang dimaksud dengan netral oleh para cendikia adalah tidak menghujum, mencela dan mengkafirkan pihak lain yang berbeda dengan kita, tetapi tetap berada di dalam daerah kebenaran sambil mengambil sikap tasamuh (toleransi kepada orang2 yang tersalah, apatah lagi terhadap orang2 yang hanya berbeda sudut pandang).

Yang jelas, Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya segala sesuatu selain Allah. (ليس كمثله شيئ) Wallahu a'lam..

Anonim mengatakan...

(1)
Maaf, saya Sudin, nanya lagi...
bagaimana tanggapan Ustadz, utk link artikel berikut:

http://alponti.multiply.com/journal/item/73/Pengakuan_Al-Qurthubi_bahwa_Ulama_Salaf_Berpendapat_Allah_di_ATAS

http://alponti.multiply.com/journal/item/59/Pendapat_Para_Ulama_Salaf_tentang_Allah_di_Langit

http://alponti.multiply.com/journal/item/57/ALLAH_ITU_DI_LANGIT_Meluruskan_Kesesatan_Abu_Salafy_6

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/07/dimanakah-allah-ini-jawaban-al-imaam.html

pendapat Tafwidh ditentang keras oleh Abul Jauzaa, dan dianggap tidak benar, sebagaimana ia merujuk ke Ibnu Taimiyyah. utk Anshari Taslim lebih moderat, tapi tetap menguatkan Itsbat.

Sebenarnya saya pribadi Tafwidh dgn merujuk statement berikut Qodhi al-Baqillani dan Habib Abdullah al-Haddad

Anonim mengatakan...

(2)
utk Qodhi Al-Baqillaniy adalah sbb:
Bab : Apabila ada seseorang yang bertanya : “Dimanakah Allah ?”. Dikatakan kepadanya : “Pertanyaan ‘dimana’ adalah pertanyaan yang menyangkut tempat, dan Dia tidak boleh dilingkupi oleh satu tempat. Tidak pula satu tempat bisa meliputi-Nya. Namun, kita hanya boleh mengatakan (atas pertanyaan itu) : ‘Dia berada di atas ‘Arsy-Nya’, dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan. Maha Tinggi (Allah) dari atas semua itu dengan setinggi-tinggi dan seagung-agung-Nya !” [At-Tamhiid, hal. 300-301].
(kebetulan ada di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/al-qaadliy-abu-bakr-al-baqillaniy-allah.html)

Anonim mengatakan...

sedang Habib Abdullah al-Haddad sbb:

http://bahrusshofa.blogspot.com/search/label/Aqidah .

"Dan bahawasanya Dia (yakni Allah s.w.t.) suci dari masa dan tempat, suci dari menyerupai segala ciptaan, tidaklah Dia diliputi oleh segala arah (jihat), dan tidaklah Dia bersifat dengan segala sifat yang baharu. Dia beristiwa` atas arasyNya sebagaimana yang difirmankanNya dengan makna yang dikehendakiNya, istiwa` yang layak dengan kemuliaan keagunganNya dan ketinggian kemuliaanNya dan kebesaranNya (ini merupakan tafwidh mutlak Imam al-Haddad terhadap firman tersebut kepada Allah, dengan menyerahkan bulat-bulat pengertian makna hakikinya kepada Allah, tanpa membicarakannya lebih daripada itu. Dan perhatikan bahawa hal ini dinyatakan oleh Imam al-Haddad selepas dia mensuci atau mentanzihkan Allah daripada bertempat.)"


intinya bila ditanya Allah ada dimana, saya jawab di langit. Tapi tdk bermakna menempati, menempel.
Dan bila ditanya Istawa, saya katakan Istawa sesuai dgn yg dikehendaki Allah, sesuai dgn keagungan dan kesucian Allah.

menurut saya itu, kedua kalam itu Tafwidh. tapi beberapa rekan di Salafi ada yg bilang itu Itsbat. termasuk kalam Habib Abdullah al-Haddad, dianggap Itsbat.

Mohon pencerahannya. karena saya lihat Ustadz lebih alim dan paham ilmu Aqidah.

Wassalam - Sudin

Sufi Medan mengatakan...

@Mas Anonim yang dimuliakan Allah: Biasakan lain kali dalam membaca artikel2 yang ada di link2 apakah itu link salafi atau link sufi untuk kembali merujuk kepada kitab aslinya. Agar tidak tertipu dengan nukilan yang hanya sebagian, dan melupakan sebagian yang lain. Pada url ini :
http://alponti.multiply.com/journal/item/59/Pendapat_Para_Ulama_Salaf_tentang_Allah_di_Langit

Artikel ini belum paripurna dalam menukil. Ada satu kalimat yang berada di akhir paragraf pada tafsir Qurtubi, yang mana itu merupakan tanggapan Imam Qurtubi sendiri atas 2 khilafiyah yang dikumpulkann secara global. Yang mana jika kalimat ini anda baca, maka anda akan menemukan bahwa Imam Qurtubi beraqidah sebagaimana aqidahnya 'Asya'iroh. Beliau memulai dengan kata "qultu". Silahkan merujuj sendiri :)

Sufi Medan mengatakan...

Manhaj yang digunakan oleh salaf sama2 itsbat, tetapi berbeda hakekat. Yang diitsbat oleh salaf adalah lafazh saja (bahwa ayat istiwa' itu benar adanya sebagai firman Allah yang diturunkan, memang seperti itulah lafazhnya, tidak ada lafazh lain, ini untuk membantah kaum mu'athilin yang menafikan ayat tersebut secara total, baik makna maupun lafazh, artinya kaum mu'athilin mengingkari ayat ini). Dalam makna, salaf tidak itsbat, melainkan tafwidh, yaitu Salaf menyerahkan maknanya kepada Allah secara total, sedikitpun tidak ingin memaknai ayat tersebut dengan arti apa2.

Adapun salapi yang ada sekarang, yang diitsbat bukan lafazh saja, tetapi makna. Artinya salapi ghuluw (berlebihan) dalam hal itsbat, sampai2 maknanyapun (bahwa Allah bener2 bertempat di atas 'arasy) diitsbat. Padahal salaf mentafwidh maknanya ini. Jadi dalam hal ayat istiwa' ini, salapi tidak mengikut salaf, tetapi mengikut Ibnu Taimiyah. Yah..Ibnu Taimiyahlah yang diikuti mereka. Ibnu Taimiyahlah yang pertama melakukan itsbat makna. Bahkan beliau mencela manhaj tafwidh yang dilakukan oleh salaf. Ibnu Taimiyah berkata:

"
(فتبين أن قول أهل التفويض - الذين يزعمون أنهم متبعون للسنة والسلف - من شر أقوال أهل البدع والإلحا

ِArtinya: "Maka telah jelas bhw perkataan ahli tafwidh yang menda'wa merekalah pengikut sunnah dan salaf itu; adalah seburuk-buruk perkataan ahlul bid'ah dan atheis. (Dar'u Ta'arudh (1/115) karya Ibnu Taimiyah Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim) "

Wallahu a'lam

Anonim mengatakan...

Allah bersemayam di atas Arsy

“Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’I, ia berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4). Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais.

Anonim mengatakan...

1. Dalil Al Qur’an

Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)

Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)

Juga ayat lain yang artinya:

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.

Anonim mengatakan...

2. Dalil hadits

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya:

“Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)

Anonim mengatakan...

4. Dalil fitrah

Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.

Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11)

Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara) –nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis”. (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits)

Anonim mengatakan...

“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16).......????

Sufi Medan mengatakan...

@Saudara Anonim yang dimuliakan Allah: Semua komentar anda sudah terjawab di dalam artikel saya di atas. Silahkan membaca kembali. Sekian terima kasih :)

Anonim mengatakan...

jadi...Allah bersemayam di atas Arsy

“Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’I,

Anonim mengatakan...

Ustadz Sufi Medan, tanya bagaimana mendaftarkan komentar dgn user id email yahoo.com.

karena sepertinya ada yg menyelip di diskusi kita.

saya Sudin, yg bertanya dari awal, plus yg terakhir bertanya dgn menukil kalam Qodhi al-Baqillani dan Habib Abdullah al-Haddad.

bukan orang yg mendadak nyelip dan tanpa memberikan nama/identitas diri, menukil banyak artikel dari komunitas salafi, serta masih bertanya di mana Allah.

btw, balik ke diskusi kita, jadi apakah termasuk madzhab Tafwidh, utk yg saya telah lakukan....yaitu bila ditanya Allah dimana, dijawab di langit, di Arsy, sebagaimana Qodhi al-Baqillani dan Habib Abdullah al-Hadad....namun menjawab tsb disertai tanzih, dan menerangkan bahwa ini adalah Tafwidh ma'naa dan bilaa Kaifa...tidak mengitsbatkan ma'naanya apalagi menyatakan ada kaifiyat namun tidak diketahui.

apakah benar itu madzhab tafwidh, dan sudah benar yg saya lakukan?!
mohon penjelasannya.

utk anonim yg menyelip...anda pakai adab, kenalkan diri anda, dan berikan tanggapan karena ingin berdiskusi, bukan lantaran ingin debat.

kalau ingin debat, silahkan cari milis terkait.

Wassalam - Sudin

Sufi Medan mengatakan...

@Mas Sudin yang kami muliakan

Pertanyaan Anda: jadi apakah termasuk madzhab Tafwidh, utk yg saya telah lakukan....yaitu bila ditanya Allah dimana, dijawab di langit, di Arsy, sebagaimana Qodhi al-Baqillani dan Habib Abdullah al-Hadad....namun menjawab tsb disertai tanzih, dan menerangkan bahwa ini adalah Tafwidh ma'naa dan bilaa Kaifa...tidak mengitsbatkan ma'naanya apalagi menyatakan ada kaifiyat namun tidak diketahui.

apakah benar itu madzhab tafwidh, dan sudah benar yg saya lakukan?!

-----------------

Ya apa yangt diucapkan oleh Al-Baqilani dan Imam al-Haddad, ya itu sebenarnya mazhab tafwidh itu sendiri.

Anda harus memahami uslub bahasa mereka dengan cermat.

Coba perhatikan:

Al-Baqillaniy berkata:
"Bab : Apabila ada seseorang yang bertanya : “Dimanakah Allah ?”. Dikatakan kepadanya : “Pertanyaan ‘dimana’ adalah pertanyaan yang menyangkut tempat, dan Dia tidak boleh dilingkupi oleh satu tempat. Tidak pula satu tempat bisa meliputi-Nya. Namun, kita hanya boleh mengatakan (atas pertanyaan itu) : ‘Dia berada di atas ‘Arsy-Nya’, dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan. Maha Tinggi (Allah) dari atas semua itu dengan setinggi-tinggi dan seagung-agung-Nya !” [At-Tamhiid, hal. 300-301].

Kalimat Baqilani di atas terdiri atas dua kalimat (+) dan (-). Di satu sisi dia mengitsbat (+), di sisi yang lain dia menafikan (-).

Sufi Medan mengatakan...

1-‘Dia berada di atas ‘Arsy-Nya’, (+)

2- dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan. (-)

Pada kalimat pertama beliau mengitsbat (mengiyakan) bhw Allah di atas 'Arasy (+)

Pada kalimat kedua, beliau menafikan bhw Allah berada di atas 'Arasy, dengan cara tidak mengucapkannya secara langsung, tetapi dengan perwakilan kalimat "dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan" (-)

Uslub seperti ini sama seperti uslub yang ada dalam bahasa kita:

1- Yuk ane traktir, ane yang bayar (+)
2- tapi pakai uang ente (-)

Ini sama saja saya tidak membayar sama sekali, tetapi tetep anda yang bayar.

(+) jika bertemu dengan (-), hasilnya akan negatif bukan?!

Sufi Medan mengatakan...

Di kalam ulama ahlus sunnah manapun, anda akan menemukan uslub yang sama dengan uslub kalimat yg diucapkan oleh al-Baqilani ketika ingin mengucapkan Allah di atas langit atau 'arasy, pasti ada embel2nya di belakang: "tidak berkonsekwensi jisim, batas, dan sebagainya" yang mana kata2 itu sendiri dengan sendirinya membatalkan kalimat yang pertama bahwa Allah ada di atas arasy, sebab arasy itu sendiri adalah jisim, batas dan jarak.

Wallahu a'lam...

Sufi Medan mengatakan...

Dan sekali lagi saya akidkan bahwa: "yaa, bahwa yang Mas Sudin ucapkan itu adalah manhaj tafwidh, yaitu melafzahkan kalimat al-Quran bahwa "ar-Rahmanu alal 'arsy istawa" tetapi untuk makna kira serahkan kepada Allah. Beginilah salaf dahulu. (Wa ma ya'lamu ta'wilahu illallah)

Jika sekali saja anda ikut mengartikan bahwa kalimat alquran di atas bermakna: "Allah betul2 berada di atas 'arasy" maka anda telah menyamakan Allah dengan makhluk dalam hal "sama2 bertempat" walaupun tak tahu bagaimana cara bertempatnya. Wallahu a'lam..

Anonim mengatakan...

Ini Sudin lagi.

Terima kasih banyak Mas Ustadz Sufi Medan.

jadi tenang karena ini menyangkut aqidah, dan penjelasannya sangat bagus, terutama dgn memberikan indikator + dan - pd kalam yg dibahas.

ada sedikit ganjalan utk Ibnu Taimiyyah.

tulisan bahwa Ibnu Taimiyyah mencela ahli Tafwidh yg Mas Ustadz sampaikan memang benar.

Tapi ane baca di website Hafiz Firdaus dan blog Syaikhul Islam Wordpress (Ibnu Taimiyya)....utk masalah Istawa, beliau menyatakan Itsbat namun memberitahukan bahwa Istawa 'alal 'Arsy namun tanpa bersentuhan, tanpa membutuhkan atau tergantung dgn arsy atau makhluk lainnya.

Sebenarnya khusus utk Statement Istawa Ibnu Taimiyyah ini...dia bisa dianggap sebagai Tafwidh atau bukan?!

makanya dari dulu kalau ada yg tanya saya, dlm beberapa diskusi, saya katakan Ibnu Taimiyyah itu Syaikhul Islam, inpsirasi kembali kpd Salafus-Sholih menghidupkan spirit tajdid.

Tapi dlm Tauhid Asma wa Shifat, ada syubhat tajsim/tasybih dlm gaya penyampaiannya. Tidak berani menyatakan kepastian tajsim/tasybih thd beliau, karena dlm banyak artikel, agak membingungkan, dan dia selalu menekankan dalil Laisa Kamitslihi Syai-un. Jadi selalu saya sampaikan agar berpegang kpd Tafwidh, bukan Itsbat ala Ibnu Taimiyyah.

Bagaimana menurut Mas Ustadz Sufi Medan.
btw mohon maaf, numpang nanya nama aslinya, biar saya lebih santun dlm memanggil Ustadz.

Wassalam - Sudin

Anonim mengatakan...

Belajar lagi aja mas,
jangan ambil ilmu dari Sufi, sufi itu suka film

Anonim mengatakan...

anonim yg tdk beradab, anda mengganggu diskusi saya dgn Ustadz Sufi Medan. dan mengucapkan kalimat yg tdk baik.

Walloohi, kelak akan dituntut pertanggungjawabannya di hari Kiamat kelak, semua yg anonim lakukan, termasuk posting komentar yg mengganggu dlm diskusi kami berdua.

Ilal-liqoo' - Sudin

Anonim mengatakan...

Si Penulis tidak faham istilah "biarkan ia sebagaimana dia datang", bahwa maksudnya adalah tidak merubah lafazh dan maknanya, sedang di penulis memahami sebagai jangan diartikan alias sekedar makna tanpa lafazh. Itulah faham TAFWIDH yang oleh sebagian kalangan disandarkan kepada para Salaf padahal tidaklah demikian pada hakekatnya. Karena semua ulama Salaf menyakini bahwa Al-Qur'an turun lafazh dan maknanya sekaligus, bukan lafazh tanpa makna. Sedangkan maksud dari ayat mutasyabihat adalah ayat yang memiliki makna ganda, sehingga tidak boleh menafsirkannya kecuali mengimani lafazh dan makna yang tersebut dalam ayat tersebut -karena Al-Qur'an adalah lafazh dan makna, bukan lafazh tanpa makna- , sedangkan hakekat atau kaifiyatnya hanya Alloh Yang tahu. Semoga Alloh menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

Anonim mengatakan...

Ana nilai kesimpulan anda sangat keliru. Mohon perhatikan hadits berikut :
حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ
بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتِهِمْ قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ قَالَ قُلْتُ وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ قَالَ كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ قَالَ وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Dalam hadits di atas jelas Rosul saw membenarkan seorang jariyah mengatakan ALLOH ADA DI LANGIT. Hadits tersebut Shohih diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud dan Nasai. Mohon antum bisa pelajari dengan lebih bijaksana.

Barcode012 mengatakan...

Assalamua'alaikum warohmatullah.

Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada ustadz.

ada hal yg ingin sya tanyakan ustadz. sebagian ahlus sunnah lbh memilih menafsirkan istiwa dengan istawla. Kalau boleh tau, siapakah ulama yg pertama kali memberikan tafsir seperti itu. Apakah datang dri ulama salaf ?

bukankah ini sama artinya melakukan ta'thil dan menjauhi metode salaf yang melakukan tafwidh thdap ayat2 yg mutasyabihat.

mohon penjelasannya ustadz.

penanya
-barkhah-

PEMUDA HARAPAN mengatakan...

Sahabat Sekelas Ibnu Mas'ud jauh sebelum Ibnu Taimiyah sudah menetapkan hal seperti itu, silahkan Buka kita Mu'jam Ath-Thabrani:
حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، ثنا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّهُ قَالَ: «مَا بَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَمَا بَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَالْكُرْسِيِّ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَمَا بَيْنَ الْكُرْسِيِّ، وَالْمَاءِ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ عَلَى الْمَاءِ، وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ»
Memberitahukan kepada kami Zakariyya ibnu Yahya As-Sajiy, memberitahukan kepada kami Hudaibah ibnu Kholid, memberitahukan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirron, dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya dia berkata: “Apa yang ada diantara langit dunia dan langit yang berikutnya berjarak lima ratus tahun, dan apa saja yang ada diantara setiap langit berjarak lima ratus tahun, dan apa saja yang ada diantara langit ke tujuh dan kursiy berjarak lima ratus tahun, dan apa saja yang ada diantara kursiy dan air berjarak lima ratus tahun, dan ‘arsy ada di atas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas 'Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan".
Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya "Al-Mu'jam Kabir" No. 8987.

PEMUDA HARAPAN mengatakan...

Sahabat Sekelas Ibnu Mas'ud Radhiallahu'anhu jauh sebelum Ibnu Taimiyah sudah menetapkan hal seperti itu, silahkan Buka kitab Mu'jam Ath-Thabrani:
حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، ثنا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّهُ قَالَ: «مَا بَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَمَا بَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَالْكُرْسِيِّ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَمَا بَيْنَ الْكُرْسِيِّ، وَالْمَاءِ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ عَلَى الْمَاءِ، وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ»
Memberitahukan kepada kami Zakariyya ibnu Yahya As-Sajiy, memberitahukan kepada kami Hudaibah ibnu Kholid, memberitahukan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirron, dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya dia berkata: “Apa yang ada diantara langit dunia dan langit yang berikutnya berjarak lima ratus tahun, dan apa saja yang ada diantara setiap langit berjarak lima ratus tahun, dan apa saja yang ada diantara langit ke tujuh dan kursiy berjarak lima ratus tahun, dan apa saja yang ada diantara kursiy dan air berjarak lima ratus tahun, dan ‘arsy ada di atas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas 'Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan".
Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya "Al-Mu'jam Kabir" No. 8987.

rolies_ajni mengatakan...

Syukron bang udah meluruskan pemahaman tauhid saya...
Salam kenal bang...
RadhiyALLAHU 'ALEK, Amin
Kesempurnaan hanya milik ALLAH
Kekurangan & kekhilafan ada di diri kita

agus sahid mengatakan...

Ngomongnya pada semrawut...itu yg pada pintar ngomong kalo dikasih jabatan pasti pada korupsi alias jadi maling, buktinya sdh ada...para ustad yg nyuri duit rakyat

Jayadi D mengatakan...

Wah.. mantab sy mendukung statmen mas agus sahid aja dah.. dan tdk pro sm ustad yg pandai ngomong apalagi kuat ngomong tpi sy jg tdk pro ibnu taimiyah..

Jayadi D mengatakan...

Ass.. fakir saudaraku tercinta Abu bakar ra. Prnh berkata pengetahuanku adlah ketidak tahuanku.. al fakir saudaraku org2 yg tlh dikaruniayi kebenaran oleh ALLAH faham bhw perkataan itu adalah bagian dari amal ibadah seseorang sehingga keluhlah lidah mereka utk mengatakan suatu yg syubhat.. apalagi utk banyak mengatakanya.. fakir saudaraku org yg tlh dikarunikn kebnaran padanya.. takut kpd ALLAH utk mngatakn sesuatu yg tdk brmanfaat bagi dirinya jg bgi org lain.. wass Barrakllah dari sy org yg fakir .. org tak trknal.

kusmardiyanto mengatakan...

Alloh swt tidak butuh tempat, buktinya ketika ruang/tempat belum ada Dia sudah ada….tapi ketika tercipta ruang/tempat (dengan terciptanya Arsy) maka dengan sendirinya Dia swt memiliki posisi berkaitan ruang/tempat itu, yaitu Dia swt diluar ruang/tempat itu…dan posisi itu di atas Arsy….sebab dengan Dia swt berada di luar ruang maka dengan sendirinya Dia swt tidak menempati ruang/tempat, jadi tetap masih bisa dikatakan Dia swt tidak butuh ruang/tempat…..nah kalau sekarang ada pertanyaan “dimana Alloh swt ketika Arsy (ruang/tempat) belum ada?”….ada jawabannya di dalam al-hadits yakni ” fi amaa’, laisa fauqohu hawaa’ wa laisa tahtahu hawaa’ ” artinya ” di amaa’, tidak ada ruang di atas-Nya maupun di bawah-Nya “…..jadi amaa’ adalah kondisi tidak ada ruang…..

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Powered by. Ryosatura. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Topic

Jika kamu ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu!

Tasawuf itu ihsan

Saudara-saudaraku yang budiman, jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni).

Tasawuf itu akhlaq (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta'budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur'aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma'rifat. Ma'rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; "Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni." (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A'immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).

Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho'illah As Sakandari, Imam Sya'roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.

Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu' hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.

Mengenai Saya

Foto saya
Al-faqir dilahirkan di sebuah kota kecil Pangkalan Berandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Di kota kecil ini minyak bumi pertama sekali ditemukan di Indonesia (tepatnya di desa Telaga Said). Saat ini al-faqir sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syariah wal Qanun. Blog ini merupakan sebagai sarana saja bagi saya untuk sharing bersama teman-teman, silaturahmi dan menambah wawasan. Hehe jangan tertipu dengan nama blog "Sufi Medan" karena ini hanya nama blog saja, adapun si empunya sendiri bukanlah seorang sufi, hanyasaja mencintai orang2 sufi. Sufi adalah gelar yang hanya diberikan untuk orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Tasawuf dengan benar. Tentunya di sana sini masih banyak kekurangan, al-faqir sangat mengharapkan perbaikan dari Teman-teman semuanya. Saran dan masukan sangat saya nantikan. Dan bagi siapapun yang ingin menyebarkan artikel2 dalam blog ini saya izinkan dan saya sangat berterima kasih sudah turut andil dalam mengajak saudara-saudara kita kepada kebaikan dan yang ma'ruf. Terima kasih sudah berkunjung di blog orang miskin. Moga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi Teman-teman semuanya. Billahi taufiq, wassalamu'alaikum.

Followers


Recent Comments