Hikam Ibnu Atho'illah As-Sakandari Seputar Hakekat Pujian Makhluk

Kalau ada orang-orang yang memuji kita tentang kebaikan-kebaikan kita, maka jangan senang dulu Gan, karena pujian mereka itu hanya prasangka mereka saja bahwa kita ini baik. Sebenarnya yang lagi mereka puji itu adalah Allah karena Allahlah pemilik hakiki segala kebaikan yang ada pada diri kita. Adapun kita adalah tempat kelemahan dan kekurangan, begitu banyak keburukan yang kita lakukan, hanya saja Allah menutupi itu semua dengan kebaikan-kebaikan-Nya. Maka yang mereka puji sebenarnya adalah Allah dan bukan diri kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Ada dua hal yang harus kita lakukan:

Ya pertama kita harus jujur Gan, malu kepada Allah, contoh mudahnya begini; Dulu waktu SMP, PR saya sering sekali dikerjakan oleh teman yang paling pintar di kelas. Ketika mendapatkan nilai sepuluh, tentu yang dipuji oleh manusia satu kelas adalah saya.
Nah, rasanya malu bangat Gan, sementara teman yang ngerjain PR saya itu ada di situ dan menyaksikan bahwa saya lagi dipuji-puji atas hasil kerja dia. Teman saya itulah seharusnya yang berhak menerima pujian-pujian itu. Nah begitu pulalah Allah, seharusnya Allahlah yang berhak atas pujian-pujian makhluk kepada kita, malu rasanya kalau kita mengaku bahwa itu adalah hasil kerja keras kita dan kebaikan kita.

Kedua, walaupun secara hakekat kebaikan itu adalah milik Allah, namun kenapa Allah tetap menggerakkan lisan-lisan makhluk-Nya untuk terus memuji kita dan orang-orang menisbahkan kebaikan-Nya kepada diri kita? Nah jangan salah sangka Gan! Ini sebenarnya isyarat dari Allah bahwa Allah maukan agar kita menjadi mazhar (tempat curahan) kebaikan-Nya dan agar kita meningkatkan kebaikan dan amal yang belum kita kerjakan. Langkah kedua, berarti kita harus bersyukur kepada Allah, sebab telah menisbahkan nama-Nya kepada diri kita. Dan kita juga harus bersyukur kepada Allah jika memang yang mereka pujikan itu adalah benar adanya. Namun jika tidak, atau kurang, maka berusahalah kita untuk mencapai taraf yang mereka pujikan itu. 

Saya kasih contoh begini; Dulu Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mendengar bahwa orang-orang memuji-muji beliau selalu qiyamul lail sepenuh malam. Padahal kenyataannya Imam Abu Hanifah hanya qiyam setengah malam saja. Malu bukan kepalang dan takut yang luar biasa dirasakan oleh Imam Abu Hanifah. Karena beliau paham betul bahwa Allah sangat mencela orang-orang yang suka agar orang-orang memuji dirinya dengan apa-apa yang tidak dia lakukan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

و يحبون أن يحمدوا بما لم يفعلوا فلا تحسبنهم بمفازة من العذاب

"Mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan maka janganlah kamu menyangka bahwa mereka akan terlepas daripada siksa…(Ali Imran: 188)"

Imam Abu Hanifah akhirnya benar-benar melakukan qiyamul lail tiap-tiap malam sepenuhnya.

Nah bandingkan Imam Abu Hanifah dengan diri kita. Kita justru sebaliknya, malu dan takut dicela, tapi begitu senang dipuji. Jangan-jangan kita termasuk kepada orang-orang yang dimaksud pada ayat di atas.

Demikian hasil dzikir berjamaah yang saya dapatkan tadi malam Gan. Ini adalah penjelesan terhadap Hikam ulama sufi Al-Imam Ibnu Atho'illah As-Sakandari:

إذا أطلق الثناء عليك و لست بأهل فاثن عليه بما هو أهل

"Jika dilontarkan pujian kepadamu dan kamu bukanlah pemiliknya, maka kembalikanlah pujian itu kepada yang punya."



Wallahu a'lam…


Al-faqir ilallah, Muhammad Haris F. Lubis
Kairo, Jum'at 29 April 2011, pkl: 00.10 am

Share

posted under |

0 comments:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Powered by. Ryosatura. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Topic

Jika kamu ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu!

Tasawuf itu ihsan

Saudara-saudaraku yang budiman, jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni).

Tasawuf itu akhlaq (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta'budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur'aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma'rifat. Ma'rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; "Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni." (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A'immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).

Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho'illah As Sakandari, Imam Sya'roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.

Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu' hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.

Mengenai Saya

Foto saya
Al-faqir dilahirkan di sebuah kota kecil Pangkalan Berandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Di kota kecil ini minyak bumi pertama sekali ditemukan di Indonesia (tepatnya di desa Telaga Said). Saat ini al-faqir sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syariah wal Qanun. Blog ini merupakan sebagai sarana saja bagi saya untuk sharing bersama teman-teman, silaturahmi dan menambah wawasan. Hehe jangan tertipu dengan nama blog "Sufi Medan" karena ini hanya nama blog saja, adapun si empunya sendiri bukanlah seorang sufi, hanyasaja mencintai orang2 sufi. Sufi adalah gelar yang hanya diberikan untuk orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Tasawuf dengan benar. Tentunya di sana sini masih banyak kekurangan, al-faqir sangat mengharapkan perbaikan dari Teman-teman semuanya. Saran dan masukan sangat saya nantikan. Dan bagi siapapun yang ingin menyebarkan artikel2 dalam blog ini saya izinkan dan saya sangat berterima kasih sudah turut andil dalam mengajak saudara-saudara kita kepada kebaikan dan yang ma'ruf. Terima kasih sudah berkunjung di blog orang miskin. Moga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi Teman-teman semuanya. Billahi taufiq, wassalamu'alaikum.

Followers


Recent Comments