Mau Ikut Sahabat Apa Ikut Nabi???

Juragan Imoet sangat bosan mendengar bentuk pertanyaan seperti judul di atas. Juragan sering menemukan kalimat ini ketika berdialog bersama ikhwanina wa ahbabina. Kalau dipikir-pikir, pertanyaan seperti itu pertanyaan yang melecehkan lho...terutama melecehkan para sahabat Radhiyallahu anhum. Contohnye pegini Gan: Sahabat kan shalat tarawehnya 20 rakaat, sementara Nabi 8 raka'at. Kalau udah mentok mereka bilang; "Loe mau ikut sahabat apa ikut Nabi???"

Coba dah perhatiin...! Kaya' sahabat kaga' ikut Nabi aje. Huh...! :(



Padahal sahabat itu shalatnya 20 rakaat karena ngikut Nabi shalat tarawehnya 20 rakaat lho...Ini buktinye: http://sufimedan.blogspot.com/2010/08/shalat-taraweh.html

Oke...kalaiu misalkan kita lebih milih ngikut Nabi yang kata mereka shalat delapan raka'at...dan sahabat dulu tetap kukuh shalat tarawehnye 20 raka'at...lantas apakah kita yang shalat tarawehnya cuman delapan rakaat ini dikatakan lebih ngikut Nabi ketimbang sahabat?! Wuah...uenak sekali...hebat sekali kita, ketimbang sahabat. Kaya' sahabat kaga' ikut Nabi aje.

Ane kasih contoh nyang laen. Di masa Nabikan thalaq 3 jatuhnya 1. Eh tapi Sayyidina Umar bilang thalaq 3 jatuhnya 3. Lantas kita datang2 sok2 mantap bilang "Mau ikut Nabi apa ikut sahabat....???? gubrak....*(^&^%)#@$#..... *Padahal Sayyidina Umar buat thalaq 3 itu jatuhnya 3 juga karena ngikut Nabi lho...(Jadi pegimane Gan kan ada di masa Nabi yang  thalaq istrinya 3 jatuhnya cuman 1??? Al-jawab: nah ntuh cuman ta'kid aje Gan...penekanan...mangakanya dibilang 3 kali...padahal maksud si  pentalaq adalah satu)*

Terus contoh yang ke-3. Sayyidina Utsman buat adzan Jum'at 2 kali, sementara Nabi buat adzan Jum'at cuman atu kali. Terus kita datang2 langsung bilang "Mau ikut Utsman apa ikut Nabi?" lagi2 gubrak*(*&^$%$...kaya' Sayyidina Utsman kaga' ikut Nabi aje...!

Padahal beliau juga ikut Nabi, yaitu sama2 pakai adzan dan pakai qomat...cuman ditambah aja adzannye atu lagi, jadi kaga' ngerubah apa yang sudah dibuat Nabi... Jadi pertanyaan "Mau ikut sahabat apa ikut Nabi?" ini sangatlah tidak pantas dilontarkan kepada orang2 yang mengikut Sayyidina Ustman...Ini tentunya melecehkan Utsman radhiyallahu anhu...seolah-olah beliau kagak nyunnah...kaga' ngikut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. http://sufimedan.blogspot.com/2010/08/adzan-jumat-satu-kali-atau-dua-kali.html

Ya pastilah kita mau ikut Nabi plus ikut sahabat. Kita ikut sahabat itu berarti kita juga ngikut Nabi. Mana ada amalan2 dan perbuatan2 sahabat itu yang keluar dari amalan2 dan perbuatan2 Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam... Nabi faham betul itu...

Mangakanye Nabi pernah bilang:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ
"Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafa ar-Rasyidun yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud

Mangkanye kaga' ada generasi yang paling baik dan lebih baik daripada genarasinya para sahabat dan murid2nye. Karena memang mereka paling nyunnah, paling ngikut Nabi aqwalan, af'alan, adaban, ruhan wa ahwalan...

Kok tau-taunya kita yang datang belakangan ini, nyang imannya kadang terang kadang redup, yang tobatnya kaya' sambal (awal-awalnye aja panas, abis minum dingin lagi :D) datang-datang ke mesjid belaga' ngebilang yang sholat taraweh 20 raka'at kaga' afdhal...yang utama adalah 8 raka'at, karena yang itu yang dilakukan Nabi...Hiufth...orang kaya' gini cocoknye mulutnye disumpal pakai kain lap, terus kakinye diiket pakai batu gede', terus dicemplungin ke Laut Nyi Roro Kidul...biar dimakan sekalian sama Nyi Roro Kidul... *Just Kidding Gan :D*

Wassalam, Juragan Imoet
Cairo, 11 Ramadan 1431 H

Share

posted under |

3 comments:

Anonim mengatakan...

Mohon izin untuk saya bagikan di facebook

Muhammad Haris F. Lubis mengatakan...

silahkan ^^

Saifuddin bin Abd hafid bin Kali barru mengatakan...

salam...ikuti sunnah nabi dan para sahabatnya....pertanyaan saya? benarkah nabi menyuruh juga mengubah apa yang di tetapkan rasulullah...karna seyogyanya sahabat cuman untuk menghidupakannya bukan menambah2 dan mengubahnya,,jika ada hadistnya bisa merubah2 atau menambah mohon pencerahannya...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Powered by. Ryosatura. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Topic

Jika kamu ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu!

Tasawuf itu ihsan

Saudara-saudaraku yang budiman, jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni).

Tasawuf itu akhlaq (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta'budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur'aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma'rifat. Ma'rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; "Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni." (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A'immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).

Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho'illah As Sakandari, Imam Sya'roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.

Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu' hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.

Mengenai Saya

Foto saya
Al-faqir dilahirkan di sebuah kota kecil Pangkalan Berandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Di kota kecil ini minyak bumi pertama sekali ditemukan di Indonesia (tepatnya di desa Telaga Said). Saat ini al-faqir sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syariah wal Qanun. Blog ini merupakan sebagai sarana saja bagi saya untuk sharing bersama teman-teman, silaturahmi dan menambah wawasan. Hehe jangan tertipu dengan nama blog "Sufi Medan" karena ini hanya nama blog saja, adapun si empunya sendiri bukanlah seorang sufi, hanyasaja mencintai orang2 sufi. Sufi adalah gelar yang hanya diberikan untuk orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Tasawuf dengan benar. Tentunya di sana sini masih banyak kekurangan, al-faqir sangat mengharapkan perbaikan dari Teman-teman semuanya. Saran dan masukan sangat saya nantikan. Dan bagi siapapun yang ingin menyebarkan artikel2 dalam blog ini saya izinkan dan saya sangat berterima kasih sudah turut andil dalam mengajak saudara-saudara kita kepada kebaikan dan yang ma'ruf. Terima kasih sudah berkunjung di blog orang miskin. Moga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi Teman-teman semuanya. Billahi taufiq, wassalamu'alaikum.

Followers


Recent Comments