Mengapa Rasulullah Tidak Diizinkan Allah Untuk Mendoakan Ibunya?



Makam Aminah, Khadijah dan Abu Thalib
Wahai orang-orang Wahabi (red: salafi) yang beriman, jagalah lisan kamu dari mengatakan ayah ibu Rasulullah adalah musyrik. Tak kah kamu pertimbangkan ayat Allah:
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
“sesungguhnya orang2 musyrik adalah najis” (surat at-Taubah azat 28)
Ya memang para ulama dalam menafsirkan ayat di atas ada yang mengartikan najis dalam arti hakiki hingga orang-orang kafir tidak boleh memasuki mesjid, dan ada juga para ulama yang menafsirkan najis dalam arti majazi, hingga maksudnya adalah najis dalam hal aqidah.

Tapi tetap saja, makna mana sajapun yang diambil dari kedua ayat di atas  sangat menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin seorang Rasulullah yang suci dilahirkan daripada orang-orang yang beraqidahkan najis atau dilahirkan dari daging dan darah yang najis. La haulun wa la quwwatun illa billah.

Lihatlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
 إن الله اصطفاني من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم

Sesungguhnya Allah mensucikan daripada anak2 Ibrahim: Ismail, mensucikan daripada anak2 Ismail: Kinanah, mensucikan daripada Kinanah Quraisy, dan mensucikan daripada Quraisy: Bani Hasyim, dan Allah mensucikan aku daripada Bani Hasyim.(Hadits riwayat Muslim)

Cobalah pikir pakai otak, jangan pakai dengkul, apakah mungkin Allah mensucikan mereka, dari generasi ke generasi, sementara mereka adalah orang2 kafir???

Dan kemudian apakah kalian lupa dengan firman Allah:
إِنَّمَا يريدُ اللَّه لِيُذْهِب عَنْكُم الرِّجْس أَهْلَ الْبَيْت وَيطَهِّرَكُم تَطْهِيراً
"Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan najis dari ahlul baitmu dan mensucikan mu dengan sesuci-sucinya."
Pemakaman Baqi' Sebelum Digusur
Inilah kesalahan wahabi. Mereka tidak pernah melihat dalil-dalil lain yang lebih kuat dan lebih qoth’i. Sudahlah cara mereka sangat tekstual dalam memahami nash ditambah pula tak mau melihat dan menggabungkan dalil-dalil lain yang ada. Maka hancurlah istimbath mereka dalam segala bidang, baik fiqih, tauhid maupun tasawuf. Inilah yang menjadi sebab kenapa mereka mengharamkan isbal, foto, pembangungan kubur, pemahaman tentang makna bid’ah dan banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan hadits riwayat Muslim:
 
حدثنا يحيى بن أيوب ومحمد بن عباد واللفظ ليحيى قالا حدثنا مروان بن معاوية عن يزيد يعني بن كيسان عن أبي حازم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun untuk ibuku maka Dia tak mengizinkanku, kemudian aku minta izin untuk menziarahi kuburnya maka Dia mengizinkan aku. (HR. Muslim 976, juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud,  An Nasa’I dan Ibnu Hibban, semuanya dari jalur Abu Hurairah)

Mendengar hadits ini, maka kita jangan tergesa-gesa megatakan bahwa ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah kafir. Wal ‘iyadzubillah…

Harus kita teliti dulu pendapat para ulama tentang pemahaman hadits itu sebenarnya bagaimana. Mari kita dengar apa kata Imam Suyuthi penutup amirul mukminin fil hadits:

“ Adapun hadits tersebut maka tidak mesti diambil daripadanya hukum kafir berdasarkan dalil bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga ketika di awal-awal Islam dilarang untuk menyolatkan dan mengistighfarkan orang mukmin yang ada hutangnya tapi belum dilunaskan karena istighfar Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan dijawab Allah dengan segera, maka siapa yang diistighfarkan Rasul dibelakang doanya akan sampailah kepada derajat yang mulia di surga, sementara orang yang berhutang itu tertahan pada maqomnya sampai dilunaskan hutangnya sebagaimana yang ada dalam hadits (jiwa setiap mukmin terkatung dengan hutangnya sampai hutangnya itu dilunaskan). Maka seperti itu pulalah ibu Nabi alaiha salam bersamaan dengan posisinya sebagi seorang wanita yang tak pernah menyembah berhala, maka beliaupun tertahan dari surga di dalam barzakh  karena ada sesuatu yang lain diluar kufur.”[1]

Kemudian mari kita simak apa kata Al-Allamah Al Arif Billah Syaikh Zaki Ibrahim pimpinan Tariqat Syadziliyah Asyirah Muhammadiyah di Mesir:

  1. Bahwasanya istighfar adalah bagian dari penghapusan dosa, maka  seseorang tidak akan berdosa selama dakwah Islam belum sampai kepadanya. Maka tidak perlulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memintakan ampun untuk orang yang belum terhitung telah melakukan dosa dan Allahpun juga tak akan mengiqobnya sebagai dosa. Maka memintakan ampun kepada ibunya, adalah suatu hal yang sia-sia, dan bukanlah daripada sifat para Nabi melakukan suatu hal yang sia-sia.
  2. Sesungguhnya ahlul bait Nabi tak akan masuk ke dalam neraka dan ibunya adalah daripada ahlul bait Nabi sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Aku memohon kepada Allah supaya tidak ada satupun ahlul baitku yang masuk ke dalam neraka, maka Allah mengabulkan permhonanku.” Dan begitupula yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari dari Ibnu Abbas tentang penafsiran ayat: wa la saufa yu’tika Rabbuka fa tardha; dan daripada keridhoan Muhammad adalah tidak ada satu daripada ahlul baitnya yang masuk ke dalam neraka. Maka memintakan ampun kepada ibunya dalam kondisi yang seperti ini juga merupakan suatu hal yang sia-sia dan percuma, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam disucikan Allah dari hal yang percuma dan sia-sia.[2]

Makam Aminah Sekarang
Ketiga pemahaman yang diungkapkan oleh dua ulama kita di atas sangatlah mewakili pemahaman jumhur ulama lainnya yang tidak pernah mengatakan bahwa ibu Rasulullah adalah kafir.

Adapun riwayat di dalam Tafsir Thabari tentang turunnya surat Al Baqaroh ayat 119 adalah untuk ayah dan ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thobari:
 
. أخبرنا الثوري ، عن موسى بن عبيدة ، عن محمد بن كعب القرظي ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " ليت شعري ما فعل أبواي ، ليت شعري ما فعل أبواي  فنزلت إنا أرسلناك بالحق بشيرا ونذيرا ولا تسأل عن أصحاب الجحيم[3]
Adalah riwayat mursal yang sangat dho’if. Ulama telah berijma’ akan jatuhnya sanadnya dan tidak dapat dijadikan hujjah. Yang pasti, telah ijma’ ayat ini turun untuk orang-orang kafir daripada ahlul kitab.[4]

Adapun pendapat Imam Nawawi ketika mensyarahkan hadits di ziarahdi atas, Imam Nawawi mengatakan:
 فيه جواز زيارة المشركين في الحياة وقبورهم بعد الوفاة[5]

Maka pendapat Imam Nawawi ini bertentangan dengan pendapat Imam Muslim sendiri yang meriwayatkan hadits tersebut di dalam shohihnya, yang mana Imam Muslim memasukkan hadits tersebut ke dalam Bab: Isti’dzanun Nabi Rabbahu fi Ziyarati Qobri Ummihi (Minta Izinnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Allah untuk Menziarahi Makam Ibunya). Maka tentunya kita lebih memilih pendapat Imam Muslim, karena Imam Muslim tentu lebih paham kenapa hadits tersebut tidak diberinya judul Minta Izinnya Nabi Allah untuk Menziarahi Makam Musyrik. Entah apa yang menyebabkan Imam Nawawi berpendapat sedemikian. Saya juga masih bertanya-tanya. Demi menjaga adab saya kepad Imam Nawawi, maka saya tidak berani mengatakan beliau tersalah walaupun memang setiap kalam itu mungkin diterima dan mungkin ditolak kecuali kalam shohobu hadzal Maqam (sambil Imam Malik menunjukkan tangannya ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam), tapi ini adalah husnuzhon saya terhadap Imam Nawawi, mungkin beliau ada maksud lain di luar kufur, atau ada maksud lain yang saya belum mampu untuk memahaminya. Makanya beliau tidak menshorihkan/menjelaskan secara gamblang dengan perkataannya bahwa ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah kafir, seolah-olah Imam Nawawi juga tahu bahwa ibu Rasulullah memang tidak kafir. Wallahu a’lam.

Akhirnya saya tutup dengan sebuah kisah Imam Al-Qodhi Abu Bakar ibnu Al-Arabi salah seorang ulama muhaqqiqin besar Malikiyah  pernah ditanya: Bahwa ada orang yang mengatakan orang tua Nabi shallallahu alaihi wa sallam di neraka. Apa jawab Ibnu Al-Arobi? Beliau mengatakan; “Terlaknat orang yang mengatakan orang tua Nabi di neraka karena Allah Ta’ala berfirman: 

 إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا .
 “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulullah, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat dan Allah menyiapkan kepada mereka adzab yang hina” ( Al-Ahzab 57)


Al-Faqir ila 'Afwi Rabbih
Muhammad Haris F. Lubis
12 Desember 2010, pkl. 10.26 wkt Cairo.
Masjid Nabawi thn 1325 H


Note: Lalu Bagaimana dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Inna abi wa abaka fin nar  (Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka)?

Silahkan simak pada tulisan saya berikut ini! Studi Kritis Terhadap Kesalahpahaman Hadits Rasulullah (Sesungguhnya Bapakku dan Bapakmu di dalam Neraka)



[1] At-Ta’zhim wal Minnah Suyuthi hal 29 cet. Dar Jawami’ Kalim Kairo
[2] ‘Ismatun Nabi Zaki Ibrahim hal.96 Cet. Rasa’il Asyirah
[3] Jami’ul Bayan Tafsir Thobari hal.748 Jilid 1 cet. Darul Hadits
[4] ‘Ismatun Nabi Zaki Ibrahim hal.96 Cet. Rasa’il Asyirah
[5] Syarah Shohih Muslim Hal. 39 Jilid 7 Imam Nawai cet.Darul Manar

Share

posted under , |

16 comments:

Anonim mengatakan...

TERUSKAN DAKWAH ANDA

Asep Suhendi mengatakan...

gan maaf saya niru thema blognya

Anonim mengatakan...

Ga ilmiah penjelasannya, soalnya ga semua hadits ente nukil, di antaranya:

Dari Anas radliyallaahu anhu : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : "Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?" Beliau menjawab : "Di neraka" Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata: "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka" [HR. Muslim no. 203, Abu Dawud no. 4718, Ahmad no. 13861, Ibnu Hibban no. 578, Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 13856, Abu Awanah no. 289, dan Abu Ya'la no. 3516].

Dari Ibnu Mas'ud radliyallaahu anhu ia berkata : Datang dua orang anak laki-laki Mulaikah – mereka berdua dari kalangan Anshar – lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu kami semasa hidupnya memelihara onta dan memuliakan tamu. Dia dibunuh di jaman Jahiliyyah. Dimana ibu kami sekarang berada?" Maka beliau shallallaahu alaihi wasallam menjawab: "Di neraka" Lalu mereka berdiri dan merasa berat mendengar perkataan beliau. Lalu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memanggil keduanya lalu berkata: "Bukankah ibuku bersama ibu kalian berdua (di neraka) ?" [Lihat Tafsir Ad-Durrul-Mantsur juz 4 halaman 298 – Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3787, Thabarani dalam Al-Kabiir 10/98-99 no. 10017, Al-Bazzar 4/175 no. 3478,shahih].

Harusnya ente nukil tuh 2 hadits di atas, biar ilmiah gan, soalnya artikel ente termsuk artikel bantahan, jd kudu semua hadits ente nukil. . .

Wallahu'alam

Sufi Medan mengatakan...

@Anonim: Sebelumnya terima kasih atas saran kunjungannya. Hadits yang anda nukilkan sudah tuntas saya kupas pada postingan saya sebelumnya. Silahkan buka berikut ini: http://sufimedan.blogspot.com/2010/08/studi-kritis-kesalahpahaman-terhadap.html

Anonim mengatakan...

Maka sesungguhnya mereka itu (kaum bapak si penanya), telah sampai dakwah Ibrahim kepada mereka dan dakwah nabi-nabi yang lain.

? Apakah ayah nabi Muhammad tidak sampai dakwah nabi Ibrahim kepadanya ? karna bapak si penanya dgn ayah Nabi Muhammad pasti sejaman ?

? Apakah berarti Nabi hanya berdusta untuk menyenangkan si penanya ? Bapak penanya di neraka sedang bapak nabi Muhammad di surga?.

? adakah dalil yg shoheh bahwa ayah nabi Muhammad di surga, sebagaimana dijaminkan pada 10 sahabat yg masuk surga?

...semua ibu para Nabi adalah wanita2 yg beriman.... "Bagaimana dg bapaknya?" termasuk Bpk Nabi Ibrahim ? Bpk nabi Muhammad?

Saya hanya orang bodoh dan ingin jawaban dengan dalil yg shoheh, bukan asal dalil. Terima kasih.

Sufi Medan mengatakan...

adakah dalil yg shoheh bahwa ayah nabi Muhammad di surga?
-----------------
YA ada, firman Allah SWT:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا
"Dan kami tidak akan memberikan adzab sebelum kami mengutus seorang Rasul." (Al-Isra': 15)

Kedua orang tua Rasulullah hidup dimasa fatrah, yaitu masa belum diutusnya Rasul untuk suatu kaum.

Bagaimana dengan ajaran Nabi Isa as? Ajaran Nabi Isa As tidak diturunkan untuk kaum Arab Quraisy, tetapi untuk bani Israel. Maka tidak wajib bagi Quraisy Arab untuk mengikuti ajaran Nabi Isa As. Tetapi secara realita, ada orang2 Arab yang memeluk ajaran Nabi Isa as ini, pun begitu pula ajaran Musa As, dan tidak sedikit yang mengikut kepada agama Ibrahim. Kuat dugaan kedua orang tua Rasulullah adalah pemeluk agama Ibrahim, yaitu agama yang hanif, yang waktu itu masih komitmen menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa terkontaminasi oleh pengrusakan dan perubahan sebagaimana yang terjadi pada agama Nabi Musa dan Nabi Isa alaihima salam oleh para penganutnya. Wallahu a'lam

Sufi Medan mengatakan...

...semua ibu para Nabi adalah wanita2 yg beriman.... "Bagaimana dg bapaknya?" termasuk Bpk Nabi Ibrahim ? Bpk nabi Muhammad?
-------------------
Yah, termasuk Bapak Nabi Ibrahim As dan Nabi Muhammad Saw.

Adapun Azar bapak Nabi Ibrahim, beliau bukan bapak kandung, tetapi bapak angkat Nabi Ibrahim. Ini sudah dikupas habis2an oleh Al Imam Al Mufassir Fakhruddin Ar-Razie di dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib ketika menafsirkan ayat tentang Azar. Silahkan Cek TKP Gan :)

Sufi Medan mengatakan...

Apakah berarti Nabi hanya berdusta untuk menyenangkan si penanya ? Bapak penanya di neraka sedang bapak nabi Muhammad di surga?.
------------------
Nabi tidak berdusta, ini hanya cara Nabi untuk menggembirakan hati si penanya. Toh Nabi tidak berdusta, sebab abi dalam bahasa Arab, artinya juga bermakna paman. Dan itu benar, paman Nabi Abu Jahal, memang di neraka.

Muhamad Ali mengatakan...

masyaAllah ini logikanya bagaimana ya?
dalil itu tdk mngkin brtentangan satu sama lain. yg jelas maknanya jngan dikaburkan akhi sufimedan.. apakah kurng jelas Rasulullah mngatakan ibu dan ayahnya berada di neraka?mau di maknai sperti apa lagi?
adapun ayat Allah itu jelas samasekali tdk brlawanan dgn pemahaman 'wahabi' yg antum katakan. Nabi Allah itu bukan cuma 25 akhi..ada berapa ratus ribu? masih ingat tidak pelajaran madrasah? lalu siapa yg tahu jika memang kedua orang tua Rasulullah itu sdh mndapatkn risalah? ajib ini kok jatuhnya mengaburkn mkna hadis yg sudah jelas ya?istighfar ah...

Anonim mengatakan...

Mari kita dengar doa-doa Ibrahim 'alaihissalam atas keturunannya yang insya Allah maqbul.


وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

"Dan ketika Ibrahim berkata," Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan keturunanku daripada menyembah berhala"(Surat Ibrahim: 35)

>> apakah ayat tersebut msh kurang jelas?
bahwa nabi Muhammad adalah termasuk keturunan Nabi Ibrahim.
brrti ayahnya Nabi Muhammad (Abdulloh) dan kakeknya Nabi Muhammad (Abdul Mutholib) terus sampai ke Nabi Ismail (sbg keturunan langsung Nabi Ibrahim) tidak mungkin menyimpang dan menyembah berhala.
Pun juga Abdulloh, Abdul Muhtolib dan Aminah belum sampai di masa dakwah nabi Muhammad.
Alhamdulillah kita sudah sama2 beristigfar.....

Anonim mengatakan...

Wahabib Tobat,

He.. he.. he.. ruarrr biasaaa!!!

Ngomong-ngomong Abu Lahab, Abu Thalib, Abu Jahal, Cs. itu keturunannya siapa? Keturunannya Wali Songo apa.

Kalo mau bicara masalah agama jangan asal jeplak seperti ngomongin sepakbola. Bahaya euy!

sari setiawati mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
sari setiawati mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
sari setiawati mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ferry Shan mengatakan...

Anonim & Mohamad Ali@
Kenapa ya, antum yang ngaku islam tapi dengan semangat mencela dan menyakiti hati Nabi-nya.
Apakah kalau ana katakan orang tua antum masuk neraka, apakah antum masih bisa tertawa??? reaksi pertama antum pasti marah besar, kedua antum pasti berusaha berdoa siang malam.
Jangan asal Bukhari-Muslim pasti shahih, telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAWW. Banyak hadist maupun ayat Qur'an yg menjelaskan kemuliaan orang tua Nabi dan ahlul baitnya.
Sufi Medan@ Hebat!!! teruskan syiar antum...

saepul biran biran mengatakan...

Yang bilang orang tua Rosul kafir syahadat lagi,!

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Powered by. Ryosatura. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Topic

Memuat...
Jika kamu ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu!

Tasawuf itu ihsan

Saudara-saudaraku yang budiman, jangan tertipu oleh dakwaan sebahagian orang bahwa tasawuf tidak ada di dalam alquran. Tasawuf itu ada di dalam alquran, hanya saja ia tersirat. Sebagaimana tersiratnya dilalah-dilalah hukum di balik nash-nash alquran begitu pula isyarat-isyarat tasawuf banyak tersembunyi di sebalik lafazh-lafazh alquran. Bukan ianya hendak disembunyikan Allah dari semua orang, tetapi agar ada usaha dan upaya untuk melakukan penggalian terhadap sumber-sumber ilahiyah yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang intibah. Di situlah akan muncul ijtihad dan mujahadah yang mengandung nilai-nilai ibadah (wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni).

Tasawuf itu akhlaq (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq); berusaha mengganti sifat-sifat madzmumah (takhalli) dengan sifat-sifat mahmudah (tahalli). Kedua proses ini sering disebut dengan mujahadah. Para Rasul, Nabi, dan orang-orang arif sholihin semuanya melalui proses mujahadah. Mujahadah itu terformat secara teori di dalam rukun iman dan terformat secara praktek di dalam rukun Islam. Pengamalan Iman dan Islam secara benar akan menatijahkan Ihsan. Ihsan itu adalah an ta'budallaha ka annaka tarah (musyahadah), fa in lam takun tarah fa innahu yarok (mur'aqobah). Ihsan inilah yang diistilahkan dengan ma'rifat. Ma'rifat itu melihat Allah bukan dengan mata kepala (bashor) tetapi dengan mata hati (bashiroh). Sebagaimana kenikmatan ukhrowi yang terbesar itu adalah melihat Allah, begitu pula kenikmatan duniawi yang terbesar adalah melihat Allah.

Dengan pemahaman tasawuf yang seperti ini, insya Allah kita tidak akan tersalah dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap tasawuf. Itulah yang dimaksud oleh perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; "Dan kami tidak mengingkari tarekat sufiyah serta pensucian batin daripada kotoran-kotoran maksiat yang bergelantungan di dalam qolbu dan jawarih selama istiqomah di atas qonun syariat dan manhaj yang lurus lagi murni." (Al Hadiah As-Saniyah Risalah Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd. Wahhab hal.50 dalam kitab Mauqif A'immah Harakah Salafiyah Cet. Dar Salam Kairo hal. 20).

Adapun praktek-praktek yang menyimpang dari syariat seperti perdukunan, zindiq, pluralisme, ittihad dan hulul yang dituduhkan sebahagian orang; itu adalah natijah daripada tasawuf, maka itu tidak benar, sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi; Imam Junaid Al-Baghdadi, Imam Ghazali, Imam Ibnu Arabi, Imam Abd. Qadir Al-Jailani, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, Imam Ibnu Atho'illah As Sakandari, Imam Sya'roni, Imam Suyuthi, Syaikh Abdul Qadir Isa dan imam-imam tasawuf lainnya qaddasallahu sirrahum.

Tasawuf juga adalah suatu ilmu yang membahas jasmani syariat dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah sisi ruhani. Kalau fiqih membahas syariat dari sisi zhohir, maka tasawuf dari sisi batin. Sholat misalkan, ilmu tentang rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat itu dibahas dalam ilmu fiqih. Adapun ilmu tentang khusyu' hanya dibahas dalam ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.

Mengenai Saya

Foto Saya
Al-faqir dilahirkan di sebuah kota kecil Pangkalan Berandan Kab. Langkat Sumatera Utara. Di kota kecil ini minyak bumi pertama sekali ditemukan di Indonesia (tepatnya di desa Telaga Said). Saat ini al-faqir sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syariah wal Qanun. Blog ini merupakan sebagai sarana saja bagi saya untuk sharing bersama teman-teman, silaturahmi dan menambah wawasan. Hehe jangan tertipu dengan nama blog "Sufi Medan" karena ini hanya nama blog saja, adapun si empunya sendiri bukanlah seorang sufi, hanyasaja mencintai orang2 sufi. Sufi adalah gelar yang hanya diberikan untuk orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Tasawuf dengan benar. Tentunya di sana sini masih banyak kekurangan, al-faqir sangat mengharapkan perbaikan dari Teman-teman semuanya. Saran dan masukan sangat saya nantikan. Dan bagi siapapun yang ingin menyebarkan artikel2 dalam blog ini saya izinkan dan saya sangat berterima kasih sudah turut andil dalam mengajak saudara-saudara kita kepada kebaikan dan yang ma'ruf. Terima kasih sudah berkunjung di blog orang miskin. Moga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi Teman-teman semuanya. Billahi taufiq, wassalamu'alaikum.

Followers


Recent Comments